Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan pada 25 Agustus. Selanjutnya, masyarakat disuguhkan berbagai agenda, mulai dari Belian Pelas Kampong, pentas seni budaya, hiburan rakyat, olahraga tradisional hingga bazar UMKM.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan pada 25 Agustus 2026. Selanjutnya, masyarakat disuguhkan berbagai agenda budaya dan hiburan, mulai dari Belian Pelas Kampong, pentas seni budaya, hiburan rakyat hingga bazar UMKM.
Sekdes Sabintulung sekaligus perwakilan panitia Erau Adat Benua Tuha 2026, Nurdiansyah, mengatakan pelaksanaan tahun ini secara umum masih mempertahankan konsep dan rangkaian kegiatan seperti tahun sebelumnya.
“Tetap sama saja, cuma di posisi anggaran saja yang berbeda. Berupaya memaksimalkan dana itu, kita pertama mengurangi budget, terus cari-cari dana di luar seperti perusahaan dan bantuan dari lain. Rangkaian Erau saat ini masih berlangsung,” kata Nurdiansyah kepada Korankaltim.com, Kamis (27/8/2026).
Di tengah keterbatasan anggaran, panitia berupaya memastikan seluruh rangkaian tradisi tetap berjalan. Semangat tersebut menjadi bukti pelestarian budaya tidak semata bergantung pada kemeriahan, tetapi juga pada komitmen masyarakat untuk mempertahankan warisan yang telah diwariskan lintas generasi.
Erau Adat Benua Tuha memiliki posisi istimewa dalam sejarah budaya Kutai. Desa Sabintulung dipercaya sebagai salah satu wilayah yang mengawali tradisi Pesta Erau sebelum kemudian berkembang dan dilaksanakan di Kota Raja.
Nama Benua Tuha sendiri bermakna tempat yang paling tua di antara desa-desa lainnya. Karena itu, ritual yang dilaksanakan di Sabintulung memiliki keterikatan kuat dengan sejarah dan tradisi leluhur Kerajaan Kutai.
Pada mulanya, Erau merupakan tradisi penyampaian hasil bumi kepada Sultan Kutai sebagai bentuk penghormatan dan loyalitas rakyat. Seiring perjalanan waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi perpaduan pesta rakyat yang memiliki dimensi spiritual, sosial, dan budaya.
Salah satu bagian pentingnya adalah prosesi Belian Adat, sebuah ritual sakral yang di dalamnya terdapat pemberian jamuan atau persembahan makanan kepada arwah para raja dan sesepuh Kerajaan Kutai yang telah wafat.
Secara tradisional, rangkaian ritual ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, atau dalam istilah dahulu disebut tujuh kolam. Pelaksanaannya melibatkan unsur adat dan pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan warisan leluhur.
Selain ritual adat, Erau Adat Benua Tuha 2026 juga menghadirkan beragam kegiatan yang mempertemukan budaya, olahraga, hiburan, dan ekonomi kerakyatan.
Pada 26–27 Agustus, masyarakat dapat menyaksikan olahraga tradisional seperti begasing, belogo, dan beganjur. Sementara itu, kompetisi futsal berlangsung pada 26–30 Agustus.
Puncak kegiatan dijadwalkan pada 1 September melalui penutupan Erau yang akan disuguhkan dengan tarian tradisional dan hiburan rakyat.
Kehadiran bazar UMKM juga menjadi bagian penting dari kemasan festival. Kegiatan budaya diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi turut membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan dan memasarkan produk mereka kepada masyarakat maupun pengunjung.
Pemkab Kukar memberikan perhatian terhadap keberlanjutan Erau Adat Benua Tuha. Kegiatan tersebut telah dimasukkan ke dalam kalender event tahunan Kukar dan menjadi bagian dari semangat Kukar Kaya Festival.
Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin mengapresiasi kepala desa, kepala adat, serta masyarakat Sabintulung yang terus menjaga tradisi leluhur.
“Erau adat ini kita masukkan dalam kalender Kukar Kaya Festival. Semoga terus berkelanjutan, menjaga seni budaya warisan leluhur,” ucapnya.
Rendi juga mengingatkan kepala adat, pemangku adat, dan tokoh agama agar setiap hal yang berkaitan dengan ritual tradisi tetap dijaga. Pakem yang telah diwariskan leluhur, menurutnya, tidak boleh terganggu dan harus dilaksanakan sesuai tatanan adat yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, ia mendorong agar kegiatan pendukung dikemas secara lebih menarik dan profesional. Penataan UMKM, seni pertunjukan, serta berbagai aktivitas masyarakat dinilai penting agar Erau tidak hanya menjadi agenda pelestarian budaya, tetapi juga mampu menarik lebih banyak kunjungan ke Desa Sabintulung.
“Kita ingin festival ini selain melestarikan tradisi juga dikemas dengan baik menjadi festival berkualitas, sehingga banyak yang berkunjung di desa ini,” jelasnya.
Erau Adat Benua Tuha pada akhirnya bukan hanya tentang panggung hiburan, perlombaan, atau keramaian masyarakat. Di balik setiap prosesi adat, tersimpan pesan tentang hubungan manusia dengan sejarah, leluhur, alam, serta kehidupan sosial masyarakat.
Bagi generasi muda, keberadaan Erau menjadi kesempatan untuk mengenal akar budayanya secara langsung. Tarian, musik, permainan tradisional, ritual adat hingga sajian makanan bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan bagian dari identitas yang masih hidup dan dapat dipelajari.
Pengalaman pelaksanaan Erau pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat. Pada 2023, misalnya, ribuan warga memadati Desa Sabintulung untuk menyaksikan ritual adat dan tarian kolosal yang menggambarkan kehidupan raja serta masyarakat Kutai dari masa kerajaan hingga kehidupan masa kini.
Semangat yang terus dijaga pada Erau Adat Benua Tuha 2026. Ketika modernisasi terus bergerak, Sabintulung memilih untuk tidak membiarkan sejarah berhenti sebagai cerita. Tradisi tetap dijalankan, generasi muda dilibatkan, masyarakat diberdayakan, dan budaya dikemas agar dapat dikenal lebih luas.
“Sebab, menjaga warisan leluhur bukan berarti hidup di masa lalu. Melestarikan budaya berarti memastikan generasi masa depan masih memiliki akar untuk berpijak dan identitas untuk dibanggakan,” tegas Nurdiansyah.
Editor: Erwin