Ketua DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) Ahmad Yani mengatakan, pengawasan bersama menjadi kunci untuk memastikan program MBG berjalan sesuai tujuan, terutama dalam menjamin kualitas makanan dan pemenuhan gizi bagi para siswa. “MBG yang menjadi program pemerintah pusat memang harus dijalankan. Namun, pelaksanaannya harus memenuhi persyaratan dan standar yang telah ditentukan,” kata Yani kepada awak media Kamis (27/8/2026) hari ini.
Masyarakat yang berada paling dekat dengan penerima manfaat juga memiliki peran penting dalam melakukan pengawasan. Orangtua siswa maupun masyarakat dapat memberikan masukan apabila menemukan persoalan dalam pelaksanaan MBG. Pengawasan harus mencakup kualitas serta kandungan gizi makanan. Makanan yang diberikan kepada siswa harus benar-benar layak konsumsi dan memenuhi standar kesehatan.
“Misalnya pemenuhan gizinya, apakah sudah tercukupi atau belum. Apakah makanan itu sudah mencerminkan gizi yang baik atau tidak. Semua itu harus dikoreksi,” tegas Politikus PDIP ini.
Pemeriksaan makanan sebelum dikonsumsi juga sangat penting, jangan sampai makanan yang telah didistribusikan justru mengandung zat atau bahan lain yang dapat membahayakan kesehatan pelajar. Selain kualitas makanan, ia menyoroti rantai distribusi dan transportasi MBG. Proses pengiriman dari dapur hingga sampai ke sekolah dinilai perlu diawasi secara ketat untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan maupun kesalahan distribusi.
“Jangan sampai transportasinya singgah-singgah dan ada oknum yang menyalahgunakan. Bisa saja dari dapur lain, tetapi sampai di tempat lain, menunya berbeda. Itu semua bisa terjadi kalau tidak ada pengawasan,” ujarnya.
Seluruh pihak diajak untuk membangun pola pengawasan bersama. DPRD Kukar akan tetap menjalankan fungsi pengawasan terhadap dapur penyedia MBG, proses distribusi, hingga menampung keluhan masyarakat.
Pengawasan tersebut bukan untuk menghambat program pemerintah, melainkan memastikan MBG benar-benar memberikan manfaat sebagaimana tujuan awalnya. “Ketika melakukan pengawasan bersama masyarakat, itu bagian dari mencegah keracunan dan mencegah pemberian gizi yang tidak standar,” tegas Yani.
Yani meminta persoalan selera pelajar terhadap menu MBG turut menjadi perhatian karena makanan bergizi tidak akan memberikan manfaat apabila tidak dikonsumsi oleh penerimanya. Perlu ada evaluasi terhadap menu yang disajikan, termasuk mencari tahu alasan siswa tidak berselera mengonsumsi makanan yang diberikan.
“Kalau anak-anak tidak selera, ini juga perlu dikaji. Kenapa tidak selera? Mungkin menunya tidak cocok atau ada cara lain supaya siswa bisa mengonsumsi dengan senang. Jangan hanya makanan itu diberikan, tetapi kalau tidak dikonsumsi, percuma,” tegasnya.
Editor: Aspian Nur