Amukan si jago merah tersebar dibelasan kecamatan dengan rincian wilayah paling terparah yakni Sanga-Sanga. Kepala Pelaksana BPBD Kukar Setianto Aji Nugroho mengatakan, area terbakar paling luas mencapai 340 hektare, didominasi oleh kebakaran besar yang terjadi di Kelurahan Pendingin, kemudian lokasi kedua ada di Muara Kaman, wilayah ini mengalami kerusakan lahan seluas 130 hektare.
"Dua lokasi ini jadi wilayah paling parah terbakar akibat Karhutla," kata Setianto kepada Korankaltim.com Kamis (27/8/2026). Selain itu, wilayah dengan kasus terbanyak berada di Kecamatan Samboja, yakni 21 kejadian dengan total 126 hektare lahan terbakar.
Selanjutnya, Muara Badak berada di posisi kedua dengan total 20 kejadian kebakaran yang menghanguskan sekitar 107,25 hektare lahan. Sementara, wilayah lainnya seperti Tabang 100 ha, Muara Muntai 74 ha, Tenggarong Seberang 3,5 ha, Tenggarong 3,15 ha, Loa Kulu 3 ha, Loa Janan 2 ha, Kota Bangun 1 ha dan Muara Jawa 0,53 ha. BPBD Kukar saat ini masih melakukan konfirmasi dan menunggu laporan data karhutla dari lima kecamatan lainnya yaitu Kenohan, Muara Wis, Kota Bangun Darat, Samboja Barat, dan Anggana.
"Ada lima Kecamatan yang masih kami tunggu laporan datanya terkait Karhutla ini," ungkapnya. Bencana Karhutla ini bukan sekadar faktor alam. Berdasarkan data hukum dan lapangan, mayoritas mutlak kebakaran dipicu oleh kelalaian manusia. "Ada sekitar 99 persen penyebab kebakaran yang diakibatkan ulah manusia," sebut Setianto. BPBD Kukar meminta masyarakat untuk menghentikan praktik pembersihan lahan dengan cara membakar. Kesadaran ini sangat diperlukan demi menjaga kelestarian alam dan melindungi masa depan generasi penerus dari ancaman polusi udara serta kerusakan ekosistem.
Editor: Aspian Nur