Camat Muara Muntai Mulyadi mengatakan, hingga kini pihak kecamatan dan desa belum memiliki armada mobil tangki pemadam sendiri. Akibatnya petugas terpaksa mengandalkan mesin pemadam portable yang harus dipikul secara manual ke titik api di dalam hutan atau lahan gambut yang tidak bisa diakses kendaraan.
"Alat-alat kami sangat terbatas dan berukuran kecil. Kami hanya menggunakan standar alat semprot dan mesin portable. Jika lokasinya jauh ke dalam hutan atau lahan gambut mobil tidak bisa masuk, otomatis mesin portable itu harus dipikul," kata Mulyadi kepada Korankaltim.com Rabu (19/8/2026).
Untuk menyiasati krisis armada ini, pihak kecamatan mengandalkan sinergi dengan masyarakat dan perusahaan kelapa sawit setempat yang membantu mengerahkan truk tangki CPO untuk menyemprot area yang terjangkau kendaraan.
"Fokus pemantauan saat ini ada di beberapa titik rawan, seperti Desa Kayu Batu, Muara Leka, Berian, dan Muara Aloh," ungkapnya.
Mereka berharap ada bantuan armada tangki berkapasitas 5.000 hingga 10.000 liter dari Damkar Kukar maupun BPBD Kukar untuk disiagakan di wilayah mereka.
Merespons keluhan tersebut, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kukar Fida Hurasani memberikan penjelasan. Secara regulasi penanganan karhutla di dalam hutan atau lahan luas merupakan tanggung jawab mutlak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, Dinas Kehutanan dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Tugas utama Damkar adalah sebagai pendukung yang berfokus pada proteksi pemukiman warga.
Penempatan unit khusus berupa kendaraan taktis Komodo dan mesin portable di Muara Muntai sudah disesuaikan dengan karakteristik geografis wilayah tersebut yang berada di bantaran sungai dan jembatan.
"Karakteristik Muara Muntai itu unik. Jangankan mobil tangki besar, orang berjalan kaki saja sulit menuju titik api ditengah rawa yang mengering. Unit Komodo yang kami tempatkan di sana justru fasilitas paling efektif karena bisa bergerak fleksibel di medan sulit di mana sumber air tidak ada dan tidak bisa dilalui kendaraan besar," jelas Fida.
Saat ini, pos pemadam di Muara Muntai masih berstatus pos sektor rintisan yang sedang dalam tahap pembenahan untuk dipermanenkan. Dengan keterbatasan personel yang ada sekitar empat hingga lima orang, menempatkan mobil tangki besar dinilai belum ideal secara teknis dan akses jalan.
Kendati demikian, personel Damkar di Muara Muntai terus bergerak aktif melakukan langkah preventif. Guna mengantisipasi suhu panas ekstrem yang rawan memicu kebakaran di lingkungan warga, petugas rutin melakukan penyemprotan pembasahan di atap-atap rumah warga, khususnya yang masih berbahan kayu dan sirap.
"Kami tetap bergerak melakukan penyekatan. Kalau ada kebakaran lahan yang mendekati pemukiman, kami pastikan akan turun langsung memblok api agar tidak merembet dan mengancam rumah warga," pungkasnya.
Editor: Aspian Nur