Kemunculan satwa liar yang menjadi satu diantara kekayaan fauna khas Kalimantan itu sempat membuat warga Desa Bukit Pariaman heboh. Lutung tersebut terlihat berkeliaran di sekitar permukiman, jauh dari habitat alaminya. Alih-alih membiarkan warga menangkap atau memeliharanya, Sugeng langsung mengambil langkah cepat dengan berkoordinasi bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.
“Kami langsung berkoordinasi dengan BKSDA Provinsi Kaltim untuk menyerahkan hewan tersebut. Tadi pagi diamankan oleh relawan Desa Bukit Pariaman,” kata Sugeng kepada Korankaltim.com, Rabu (19/8/2026).
Lutung tersebut selanjutnya akan dipindahkan ke kawasan hutan di Muara Kaman yang diperuntukkan bagi pelestarian satwa endemik Kalimantan dan direncanakan dilepasliarkan di kawasan Cagar Alam Muara Kaman Sedulang. Langkah ini dinilai penting agar satwa liar dapat kembali menjalani kehidupan di habitat yang sesuai. Penanganan melalui koordinasi dengan lembaga konservasi juga menjadi upaya untuk memastikan proses penyelamatan tidak menimbulkan risiko bagi satwa maupun masyarakat.
Sugeng berharap apa yang dilakukan Pemerintah Desa Bukit Pariaman bersama relawan dapat menjadi contoh bagi pemerintah desa dan kelompok masyarakat lainnya ketika menemukan satwa liar di sekitar permukiman. Kepedulian terhadap satwa liar bukan berarti harus mengambil dan memeliharanya. Justru, langkah yang lebih tepat adalah melaporkan dan mengoordinasikannya dengan pihak yang berwenang agar satwa dapat ditangani secara aman dan sesuai ketentuan konservasi.
“Semoga langkah ini menginspirasi pemerintah desa atau kelompok masyarakat lain. Ketika mengetahui atau ingin merawat satwa liar, khususnya satwa endemik khas Kalimantan, sebaiknya dikoordinasikan dengan pihak terkait,” harapnya.
Penyelamatan seekor lutung ini menjadi gambaran sederhana kalau pelestarian lingkungan dapat dimulai dari kepedulian di tingkat desa. Respons cepat masyarakat, pemerintah desa, relawan, dan instansi konservasi diharapkan mampu menjaga satwa liar tetap berada di habitat yang semestinya.
“Kami ingin memberikan contoh ditengah semakin pentingnya menjaga kekayaan hayati Kalimantan, kepedulian semacam ini bukan hanya menyelamatkan satu ekor satwa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan alam untuk generasi mendatang,” tutup Sugeng.
Editor: Aspian Nur