Dalam aksi ini, mahasiswa juga menggalang dukungan publik dengan meminta para pengguna jalan yang melintas dan menyetujui tuntutan mereka untuk membunyikan klakson kendaraan.
Metode unik ini sukses memicu suara riuh klakson di sepanjang jalan utama sebagai bentuk solidaritas warga terhadap keluhan krisis listrik.
Ketua BEM Unikarta, Zulkarnain, menegaskan, aksi menyalakan klakson ini sengaja dipilih untuk menunjukkan kepada pihak PLN bahwa penderitaan akibat pemadaman listrik bergilir dirasakan oleh masyarakat luas, bukan hanya mahasiswa.
Menurutnya, pemadaman listrik di Kukar dinilai telah ironis dan merugikan banyak pihak, termasuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang mengalami kerugian materiil.
Terlebih, status Kukar sebagai daerah penghasil batu bara terbesar yang menjadi bahan bakar utama PLTU nasional. Oleh karenanya, mahasiswa menuntut pemerintah memastikan kebutuhan listrik lokal terpenuhi dengan baik sebelum kapal tongkang bermuatan batu bara meninggalkan wilayah Kukar.
“Kami juga mendesak untuk transparan mengenai alasan kerusakan sistem dan mengecam pola pemadaman bergilir,” ungkapnya.
Dalam aksi ini, mahasiswa soroti keterlambatan pemberian informasi jadwal pemadaman bergilir oleh PLN kepada publik. BEM Unikarta juga menuntut kompensasi atas kerugian materiil yang dialami masyarakat selama periode pemadaman.
Mahasiswa juga meminta komitmen tertulis dari pihak PLN agar masalah serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Setelah menggelar aksi, perwakilan BEM Unikarta diterima oleh manajemen PLN untuk melakukan dialog. Pihak PLN berjanji akan berupaya mengevaluasi diri dan memberikan pelayanan terbaik ke depannya.
“Kami menegaskan akan terus mengawal dan memantau janji tersebut di lapangan agar tidak menjadi sekadar retorika penenang massa,” tuturnya.
Editor: Erwin