Kunjungan kerja ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mempercepat penanggulangan dampak kekeringan, khususnya di areal persawahan yang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan masyarakat.
Bupati bersama jajaran Forkopimda dan perangkat daerah melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi lahan pertanian, ketersediaan air, serta cadangan air yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Dalam peninjauan tersebut Aulia juga berdialog dengan para petani dan pejabat desa untuk menggali berbagai persoalan yang muncul akibat berkurangnya pasokan air selama musim kemarau. Dialog di tengah lahan pertanian dinilai penting agar langkah penanganan yang disiapkan pemerintah tidak berhenti pada pemantauan, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan petani di lapangan.
“Ketersediaan air menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan produksi pertanian. Karena itu, kondisi di lapangan harus dipantau secara langsung sehingga sumber daya dan cadangan air yang ada dapat diinventarisasi dan dimanfaatkan secara tepat,” kata Aulia.
Kegiatan dihadiri Dandim Kukar Letkol Arm Benny Budiman, Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar M. Rifani, serta sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat. Hadir pula mantan Bupati Kukar Edy Darmansyah, perwakilan Prokompim Kukar Ismed, Camat Loa Janan Herry Rusnadi, Kapolsek Loa Janan AKP Abdillah Dalimunthe, para kepala desa se-Kecamatan Loa Janan, ketua RT, serta tokoh masyarakat.
Aulia dan rombongan melakukan pengecekan ketersediaan air serta cadangan air di kawasan tersebut. Beberapa menit kemudian, komunikasi langsung dengan petani dan pihak desa dilakukan untuk mengetahui persoalan kekeringan yang sedang dihadapi.
Kondisi kekeringan menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada luas lahan dan produktivitas, tetapi juga pada keberadaan sumber air yang memadai.
“Karena itu, inventarisasi sumber air dan cadangan air menjadi langkah strategis. Pemerintah bersama masyarakat perlu memastikan sumber daya air yang masih tersedia dapat dikelola secara efektif, terutama untuk mempertahankan keberlangsungan tanaman pangan selama musim kemarau,” tegas Aulia.
Kehadiran langsung kepala daerah di tengah petani juga membawa pesan bahwa persoalan pertanian perlu ditangani secara kolaboratif. Pemerintah, aparat, perangkat desa, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga lahan pertanian tetap produktif.
Monitoring lapangan di Loa Duri Seberang diharapkan menjadi pijakan untuk mempercepat langkah penanganan kekeringan sekaligus mencegah dampaknya meluas terhadap produksi pangan dan kehidupan masyarakat.
Bagi para petani, ketersediaan air bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian penting dari keberlanjutan usaha tani.
“Dengan pemantauan yang konsisten, pemetaan sumber air, serta respons cepat terhadap kondisi lapangan, ancaman kekeringan diharapkan dapat ditekan dan ketahanan pangan Kukar tetap terjaga,” ucap Aulia.
Editor: Aspian Nur