Mengusung tema “Bersatu, Berdaulat, Adil, dan Makmur”, rangkaian upacara tidak sekadar menjadi seremoni penutup peringatan Hari Kemerdekaan. Momen ini menjadi ruang untuk kembali meneguhkan semangat persatuan, nasionalisme, serta penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan yang telah mengantarkan Indonesia menjadi bangsa merdeka.
Upacara dipimpin Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, selaku Inspektur Upacara dengan mengenakan pakaian adat khas dayak. Komandan Upacara dipercayakan kepada AKP Aulia Hadi Rahman, Kasat Reskoba Polres Kukar, sementara Perwira Upacara dijabat Suwarno, Kabag SDM Polres Kukar.
Salah satu momen paling sakral berlangsung ketika tiga pelajar dipercaya menjalankan tugas penurunan Sang Merah Putih.
Sebagai pembawa baki, tampil Fadilatulzzahra, pelajar SMAN 1 Sanga Sanga. Tugas penggerek bendera dijalankan Janu Radianto Fajjar, pelajar SMAN 1 Muara Jawa, sedangkan posisi pembentang dipercayakan kepada Fariz Adi Widiyatama, siswa SMAN 1 Loa Kulu.
Ketiganya menjadi representasi generasi muda Kukar yang mendapat kepercayaan untuk mengambil bagian dalam prosesi kenegaraan yang sarat makna ini.
Sementara itu, Danton pasukan penurunan bendera dipercayakan kepada Muhammad Raja Supandi, pelajar SMA Negeri 2 Samboja.
Prosesi berlangsung tertib. Saat Sang Merah Putih perlahan diturunkan, suasana lapangan seketika menjadi hening. Penghormatan kepada bendera menjadi simbol penghargaan kepada bangsa, negara, sekaligus kepada para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.
Sebelum prosesi utama, kemeriahan peringatan kemerdekaan turut diwarnai parade kirab berbagai paguyuban masyarakat.
Sejumlah paguyuban yang tampil antara lain Remaong Kutai Berjaya, Remaong Kutai Menamang, PDKT Kutai Kartanegara, Lembaga Adat Kenyah Cabang Kukar, PERPEDAYAK Pasukan Merah Kaltim, Paguyuban KKSS, Kerukunan Keluarga Bali, Ikatan Keluarga Tanah Jawi (Ikapakarti), Ikatan Keluarga Minang, Ikatan Keluarga Toraja (IKAT), Ikatan Keluarga Madura, Ikatan Keluarga Sriwijaya, Ikatan Keluarga Batak Sri Rezeki Tenggarong, Kerukunan Masyarakat Bima Dompu, serta LPADK.
Masing-masing kelompok turut menampilkan sekilas kekayaan budaya daerah dan tradisi yang mereka bawa. Parade tersebut menghadirkan pesan kuat bahwa keberagaman bukanlah sekat, melainkan kekuatan yang memperkaya identitas Kabupaten Kutai Kartanegara dan Indonesia.
Rangkaian kegiatan juga diisi peluncuran Mars dan Hymne Kutai Kartanegara ciptaan Yang Mulia Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Adji M Arifin.
Aubade diikuti berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Brimob, pemerintah daerah, hingga organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan.
Pasukan yang terlibat di antaranya Kodim 0906/Kkr, Yonif 611/Awang Long, Yon Armed 18/Buritkang, Polres Kukar, Pas Brimob II, Polsuspas, Korsik Pol PP Kukar, Satpol PP, Dishub, Damkar Matan Kukar, BPBD Kukar, Korpri, serta Pramuka.
Kehadiran berbagai unsur ini memperlihatkan semangat gotong royong dalam menjaga persatuan sekaligus memperkuat komitmen bersama untuk mengisi kemerdekaan melalui pengabdian di bidang masing-masing.
Prosesi dilanjutkan dengan persembahan lagu-lagu nasional dan daerah oleh Gita Kumala Nusantara. Setelah laporan komandan upacara, pasukan memberikan penghormatan kepada Sang Merah Putih sebelum bendera diturunkan dengan penuh kehormatan.
Rangkaian ditutup dengan persembahan lagu-lagu perjuangan, kemudian sesi foto bersama. Sejumlah pejabat dan tokoh daerah turut hadir, di antaranya Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin, Sekda Kukar Sunggono, Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar, serta unsur TNI, Brimob, DPRD Kukar, BIN, perangkat daerah, Kementerian Agama, FKUB, MUI, pimpinan BUMN dan perusahaan.
Turut hadir Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura bersama Bunda Ratu, Pangeran Heriansyah dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, mantan Bupati Kukar Edy Damansyah, anggota DPRD Kukar, tokoh agama, tokoh masyarakat, paguyuban berbagai suku, serta undangan lainnya.
Kehadiran lintas unsur tersebut semakin memperlihatkan bahwa peringatan kemerdekaan merupakan milik seluruh lapisan masyarakat.
Upacara penurunan bendera yang berakhir sekitar pukul 18.30 Wita. Lebih dari sekadar rangkaian protokoler kenegaraan, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi momentum untuk menengok kembali sejarah panjang perjuangan bangsa.
Kemerdekaan yang diperoleh dengan pengorbanan besar para pahlawan harus diteruskan melalui kerja nyata, persatuan, kepedulian sosial, dan pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Di tengah keberagaman masyarakat Kukar, parade budaya dan barisan peserta upacara menjadi gambaran bahwa semangat kemerdekaan dapat tumbuh ketika perbedaan dipersatukan oleh cita-cita yang sama,” tegas Bupati Kukar Aulia.
Aulia menegaskan, Merah Putih yang diturunkan sore ini bukan tanda berakhirnya semangat kemerdekaan. “Namun sebaliknya, Sang Merah Putih menjadi pengingat bahwa tugas generasi hari ini adalah menjaga persatuan, merawat kebinekaan, dan mengisi kemerdekaan dengan karya terbaik bagi bangsa dan daerah khususnya bagi Kutai Kartanegara yang sama-sama etam cintai,” tuturnya.
Editor: Erwin