Seorang anak berusia sembilan tahun diterkam buaya saat sedang mandi di sungai, Minggu (16/8/2026) sore kemarin dan kejadian itu diakui Kepala Desa Rantau Hempang Maman Sulaiman memang benar.
Dipaparkan Maman, saat kejadian anak tersebut bersama teman-temannya tengah bermain dan mandi di sungai. Buaya diduga berada di dalam air dan tidak terlihat. “Waktu anak-anak mandi buayanya tidak kelihatan. Pas mereka meloncat ke sungai mungkin buaya dan anak sama-sama kaget,” kata Maman dikonfirmasi korankaltim.com, Senin (17/8/2026).
Satu anak diduga terkena cakaran buaya dan untungnya serangan tersebut tidak sampai menyeret si anak ke tengah sungai. “Kalau sampai diterkam dan dibawa ke tengah sungai sama buayanya, mungkin tidak bisa diselamatkan. Ini kena cakaran saja yang melukai di bagian pinggang dan kaki,” jelas Maman lagi.
Penanganan medis langsung dilakukan kepada anak tersebut. Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah desa, luka pada bagian pinggang korban harus mendapatkan sekitar 12 jahitan.
Lokasi kejadian berada di kawasan sungai wilayah ulu Desa Rantau Hempang dan kawasan tersebut memang kerap menjadi tempat anak-anak mandi. Keberadaan buaya sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Beberapa tahun lalu, warga bahkan sempat mengunggah penampakan buaya pada malam hari dengan ciri mata yang terlihat dari permukaan air.
Namun selama dirinya menjalankan tugas sebagai kepala desa baru kejadian sore kemarin mendapat laporan serangan langsung terhadap warga. Peristiwa ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak menganggap remeh keberadaan buaya di perairan sungai apalagi kondisi air sungai saat ini sedang surut akibat musim kemarau.
Pemerintah desa sudah meminta kepada warga saat pelaksanaan upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026) hari ini untuk diminta meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas mandi atau bermain di titik-titik sungai yang berpotensi menjadi lokasi kemunculan buaya.
Pemerintah desa juga berencana bersinergi dengan Polsek Muara Kaman untuk meningkatkan sosialisasi keselamatan kepada masyarakat. “Kami siap bersinergi dengan pihak Polsek Muara Kaman untuk rutin memberikan imbauan. Kami juga akan memasang plang larangan beraktivitas di titik-titik tertentu yang diduga menjadi tempat buaya biasa muncul,” sebut Maman.
Terpisah, Kapolsek Muara Kaman Iptu Herwin mengakui adanya laporan anak diterkam buaya dan memastikan langsung mendapatkan penanganan medis. Di sisi lain, kepolisian terus mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati ketika beraktivitas di sungai.
Herwin menyoroti anggapan sebagian masyarakat yang selama ini berkembang bahwa buaya di perairan Mahakam tidak akan mengganggu manusia karena anggapan tersebut keliru dan berpotensi membahayakan keselamatan warga. “Jangan memahami informasi yang salah kaprah bahwa buaya di perairan Mahakam tidak mengganggu. Itu tanggapan yang salah,” tegasnya.
Masyarakat khususnya anak-anak diminta tidak bermain atau mandi sembarangan di sungai, terlebih saat kondisi air sedang surut akibat kemarau panjang. “Kalau nantinya main-main ke sungai, harus berhati-hati, apalagi sekarang kemarau panjang,” imbuhnya.
Sebagai langkah pencegahan, Polsek Muara Kaman akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak kecamatan untuk memasang spanduk atau papan imbauan di sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi kemunculan buaya.
Polsek Muara Kaman akan berkoordinasi dengan kades-kades dan pihak Kecamatan Muara Kaman untuk rutin memberikan imbauan dan memasang spanduk di titik-titik tertentu berupa larangan sebagai wujud kepedulian dan aksi pencegahan bersama demi keselamatan warga.
“Kami juga sudah berkoordinasi dengan pak Camat, kami nantinya akan koordinasi dengan instansi terkait yang berwenang mengevakuasi satwa liar sebagai bentuk tanggung jawab kami bahwa tidak ada kesannya pembiaran,” pungkas Herwin.
Editor: Aspian Nur