Farida menyebut, berat badan penghuni LPKA menurun karena mereka bebas beraktivitas, tak seperti ketika masih digabung dengan napi dewasa di Lapas Tenggarong yang gerak mereka dibatasi.
“Mereka di sini bisa olahraga futsal, bulu tangkis dan bola sepak. Sedangkan kalau mereka di Lapas Tenggarong hanya di kamar saja, tidak ada aktivitas lain selain makan dan tidur,” jelasnya. Selain olahraga, napi anak juga mendapat pembinaan spiritual dari guru agama.
Farida menambahkan, LPKA berkapasitas 12 anak, akan tetapi minimnya petugas jaga sehingga baru lima anak saja yang dititipkan.
Tahun depan, rencananya ada pengembangan LPKA agar bisa menampung tahanan anak dari kabupaten kota lainnya se-Kaltimra. “Infonya sekitar 120 tahanan anak se-kaltimra, namun ini masih bisa berkurang kalau proses diversi berjalan terus dikabulkan,”pungkasnya.
Salah seorang penghuni LPKA, AR yang dihukum dua tahun penjara karena kasus pengeroyokan mengaku senang dipindah ke LPKA. Hubungan antar penghuni dan penjaga LPKA berjalan dengan baik layakny akeluarga.
“Di sini ada TV dan kipas angin. Kami juga bisa berolahraga dan salat tiap hari. Rasa kekeluargaannya sangat tinggi,” ujar AR yang akan bebas dalam waktu dekat. (ran)