"Seluruh wilayah di Indonesia saat ini masih berproses menuju KLA. Mereka harus melalui beberapa tingkatan, mulai dari predikat pratama, madya, nindya dan utama. Bahkan sampai sekarang masih ada yang baru mendeklarasikan diri," ungkap Rohika, saat mengunjungi Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dalam rangka audit proses sertifikasi Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) Rabu (15/2/2023) kemarin.
Dijelaskannya bahwa untuk menjadi sebuah KLA, ada sekitar 24 indikator yang harus dipenuhi. Selain itu juga harus melalui proses administratif dan produk pemenuhan hak anak. Berbagai macam tahap dan proses ini harus dilalui serta dipenuhi.
"Seperti produk Pusat Informasi Sahabat Anak (PISA), Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) dan masih banyak lagi produk dan indikator yang harus dipenuhi. Ini adalah beberapa hal yang bisa meningkatkan predikat menuju KLA," ucapnya.
Sementara itu ditanya untuk Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang sampai saat ini masih bertahan di peringkat madya dalam KLA. Rohika mengatakan bahwa ada beberapa hal yang menghambat meningkatnya predikat tersebut.
"Mungkin di Kabupaten Kukar sudah banyak yang dilakukan agar dapat meningkatkan predikat menuju KLA ini. Tapi ada beberapa hal yang belum terpenuhi, salah satunya seperti bukti koordinasinya yang belum lengkap," ungkapnya.
Untuk itu, Rohika pun menyarankan agar hal ini harus bisa lebih dibuatkan sistem dengan baik. Sehingga Kabupaten Kukar bisa menapak naik ke predikat selanjutnya dalam upaya menuju KLA.
Disampaikan oleh Asisten III Setdakab Kukar, Totok Heru Subroto yang juga menjabat sebagai Plt Kepala DP3A Kukar pada Kamis (16/2/2023). Diakuinya bahwa sampai saat ini memang ada beberapa kelemahan yang harus segera diperbaiki, salah satunya mengenai sistem.
"Kelemahannya memang pada sistem, ini yang kedepannya akan diperbaiki dengan bantuan Diskominfo. Harus punya sistem khusus untuk anggaran responsive terutamanya bagi KLA, ini juga sudah mendapat dukungan dari Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar," terangnya.
Selain kelemahan pada sistem, dirinya mengatakan bahwa KLA ini belum menjadi spirit dari tiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dirinya sangat mengharapkan KLA ini bisa menjadi komitmen bersama demi kabupaten dan terutamanya bagi anak-anak di Kabupaten Kukar.
"Diperlukan peran aktif dari berbagai pihak, seperti Bapeda sebagai gugus tugas serta OPD lainnya. Begitu juga dari dunia usaha seperti Asosiasi Pengusaha Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kukar dan organisasi maupun forum lainnya," pungkasnya.
Editor: Rusdianto