Tanggal 27 Januari 1947, di kecamatan tersebut terjadi peristiwa heroik, pertempuran penduduk Indonesia dengan kolonial Belanda mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang akhirnya membuat Sanga Sanga mendapat julukan Kota Juang.
Untuk tahun ini, mengawali perayaan Merah Putih Sanga Sanga, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menggelar sepeda santai atau gowes, dipimpin Bupati Kutai Kartanegara H Edi Damansyah Sabtu (21/1/2023) kemarin.
Satu diantara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang 'lumayan sibuk' menyambut peringatan Merah-Putih Sanga Sanga ini adalah Dinas Sosial (Dinsos).
Kepala Dinsos Kutai Kartanegara H Hamly mengatakan instansi yang dipimpinnya mengawali rangkaian peringatan Merah Putih Sanga Sanga dengan memberikan tali asih kepada veteran dan janda veteran yang berdomisili di kecamatan tersebut.
"Alhamdulillah agenda kegiatan sudah dimulai kemarin dari pemerintah melaksanakan gowes merah putih dirangkai dengan penyerahan tali asih kepada veteran dan janda yang ada di Sanga sanga," kata Hamly kepada Korankaltim.com, Minggu (22/1/2023).
Pemberian tali asih berupa dana tunai ini diberikan setiap satu bulan sekali tidak hanya pada momentum peringatan peristiwa Merah Putih Sangasanga ini saja. Tidak hanya dana tunai, bupati juga menyerahkan paket sembako kepada enam veteran dan janda veteran di Kota Juang ini di sela-sela kegiatan gowes merah putih langsung berkunjung ke rumah-rumah.
"Penyerahan simbolis diberikan kepada lima janda dan satu orang yang memang veteran aslinya, Pak Marjo bin Amat, usia beliau 95 tahun. Kami mendampingi bupati silaturahmi ke rumahnya, langsung silaturahmi ketemu dengan anaknya juga keluarganya, mereka senang sekali didatangi bupati," ucap Hamly.
Sebagai informasi peristiwa Merah Putih Sangasanga selalu diperingati setiap tahun dengan upacara bendera dan berbagai kegiatan lainnya.
Peringatan peristiwa Merah Putih Sangasanga berawal ketika tentara Belanda (NICA) pada tahun 1945 menguasai Sanga Sanga yang memang kaya akan sumber minyak.
Hal tersebut membuat rakyat bersikeras mengusir Belanda dengan melakukan perlawanan tiada hentinya. Hingga pejuang Sangasanga mengadakan rapat dan tercetuslah rencana merebut gudang senjata Belanda dengan cara mengalihkan perhatian penjajah kepada berbagai keramaian kesenian daerah pada 26 Januari 1947.
Ditengah keramaian itu, para pejuang membagikan senjata dan amunisi untuk merebut kekuasaan pada pukul 03.00 wita dinihari 26 Januari 1947. Perjuangan pun berhasil. Sehingga pada pukul 09.00 wita kota Sangasanga berhasil dikuasai pejuang, ditandai dengan diturunkannya bendera Belanda di Sanga sanga Muara oleh La Hasan.
Bendera Belanda yang terdiri tiga warna yakni merah, putih, dan biru ini kemudian dirobek warna birunya, dan dinaikkan kembali bendera yang tinggal berwarna merah putih dengan upacara yang dihadiri para pejuang dan seluruh masyarakat mengiringinya dengan teriakan "Merdeka!!!".
Peristiwa tersebut tentu saja meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi warga Sangasanga, terlebih para pelaku peristiwa heroik tersebut.
Sebagai bukti perjuangan, di Sanga Sanga dibangun monumen perjuangan terukir nama-nama pejuang yang gugur pada saat itu. Peristiwa tersebut diperingati sebagai peristiwa Perjuangan Merah Putih Sanga Sanga 27 Januari.
Rangkaian agenda peringatan peristiwa ini tiap tahun dilaksanakan dengan berbagai variasi kegiatan, diantaranya napak tilas dan pameran pembangunan.
Editor: Aspian Nur