Bukan Festival Biasa
2 menit baca2.283 kali dibaca

LANJONG Art Festival (LAF) V 2017 bukan hanya sekedar festival. Namun ekspektasinya jauh lebih dari semua itu. Untuk kali perdana, acara dwi tahunan Yayasan Lanjong itu dikonsep sebagai ajang lomba. Adapun lomba yang digelar ialah Festival Tari Kontemporer, Musikalisasi Puisi, dan Festival Monolog.
Panitia LAF tidak main-main dalam gelaran dari tiga kategori lomba ini. Buktinya jajaran juri terdiri dari pesohor seni yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun di dunia seni.
Untuk Juri Tari Kontemporer ada nama besar seperti Didik Nini Thowok, Maria Darmaningsih, dan Rianto. Sementara Juri Musikalisasi ada Acep Zamzam Noor, Tony Prabowo, dan Gatot Danar. Sedangkan untuk Juri Monolog ada Prof Yudiaryani, Yusef Muldiyana, dan Rachman Sabur.
Didik Nini Thowok yang merupakan salah satu seniman kebanggaan Indonesia mengatakan, ada tiga point penting yang menjadi pertimbangan para Juri di dalam penilaian festival seni tari kontemporer, yakni konsep atau ide, teknik, dan properti yang digunakan.
“Para peserta sudah sangat matang jadi pasti kompetitif. Selain ide yang mengedepankan originalitas dan fresh, teknik menari dan penggunaan properti juga berperan penting dalam penilaian kami,” kata Didik kepada Koran Kaltim.
Seniman yang sudah 32 tahun berkecimpung di dunia seni ini mengungkapkan, selain tiga point tadi juga yang tidak kalah pentingnya ialah tradisi yang kuat sebagai akar budaya yang beragam dimiliki Indonesia.
“Muncul dari banyak daerah sebagai generasi penerus di dunia seni dan mereka berani berkreasi, namun yang sangat penting bagi saya ialah tradisi dan akar budaya yang kuat yang ditampilkan dalam setiap perform. Dengan adanya tradisi akar budaya yang kuat maka akan semakin komplit,” ungkapnya.
Ia berpesan bagi generasi penerus terutama para pejuang seni, jangan pernah meninggalkan akar tradisi, melestarikan budaya sangatlah penting. “Saat ini kita sedang mengalami krisis keberagaman, oleh karenanya sering didengungkan betapa pentingnya kearifan lokal, Bagaimana edukasi untuk para penerus hingga pembelajaran seni di usia dini juga sangat penting,” ujarnya.
Juri Monolog Yusef Muldiyana menyampaikan point penting bagi para peserta monolog harus mampu menginterpretasikan naskah dengan tepat. “Bagaimana keaktorannya melakukan lakonnya, penunjang seperti musik dan artistik juga menjadi catatan kami. Kami salut semua peserta semangatnya luar biasa, gagasan yang ditampilkan cukup beragam dan banyak ide peserta yang menarik terlepas dari kelebihan dan kekurangannya,” ujar Yusef. (*hei)










