Dilanjutkannya, monumen yang dimaksud ialah sebuah bangunan yang dibuat untuk menandai atau mengingatkan terjadinya suatu peristiwa penting yang difungsikan sebagai media ingatan sosial.
Dan tentunya, sambung Edi, jika direncanakan secara matang akan menjadi salah satu destinasi wisata sehingga tidak pernah sepi pengunjung dari seluruh kalangan strata sosial atau semua lapisan.
“Tentu masyarakat akan banyak yang datang dan biasanya untuk berkabung memanjatkan doa, menghormati atau mengenang peristiwa yang terjadi. Ini bukan menambah duka, namun dalam arti kepedulian sesungguhnya sebagai sesama manusia dan sebagai renungan kita bersama, bahwa pernah terjadi peristiwa besar di sini,” jelas Edi.
Sebelumnya, Kepala TK Arafah H Mashud Achmad yang merupakan salah satu dari kerabat korban tragedi ini, setiap tahunnya bersama pihak sekolah selalu melakukan acara pembacaan doa arwah.
Mashud memberikan usulan kepada pemda agar dapat membuat diorama peristiwa runtuhnya tragedi Jembatan Kutai Kartanegara seperti kejadian tsunami di Aceh dan tragedi bom Bali dengan mengolah sekitar jembatan seperti monumen dengan nama-nama korban.
Hal ini juga didukung anggota Komisi IV DPRD Kukar, Saparuddin Pabonglean. Menurutnya selain memberikan efek domino yakni meningkatkan wisatawan dan semakin menumbuhkan rasa kemanusiaan, dengan adanya bangunan monumen itu menjadi bahan renungan bersama baik pemerintah dan masyarakat Kukar dan Kaltim.
Penulis: */Heriansyah
Editor: M. Huldi