Namun, jumlah kasus stunting di 2019 ini menurun jika dibanding 2018 lalu yang terdapat 2.872 kasus stunting pada Balita dan 1.027 kasus stunting terjadi pada Baduta.
“Sebanyak 2.840 kasus stunting di Kukar di 2019 merata di 18 kecamatan,” kata Kepala Bidang Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kukar, dr Aulia Rahman Basri.
Banyak faktor menyebabkan munculnya stunting, seperti kekurangan gizi kronis, kurangnya asupan makanan dengan baik dan faktor lingkungan tidak sehat. “Pola asuh tidak sehat juga menjadi penyebab,” katanya.
Untuk penanganan khusus kasus stunting atau kekurangan gizi kronis yakni satu tahun dalam kandungan dan dua tahun di luar kandungan. “Standar yang kita pakai, kalau mendapatkan kasus stunting. Kita coba identifikasi dengan cara faktor determinan,” katanya.
Faktor determinan, seperti bayi yang terkena kasus stunting dilihat secara spesifik dan sensitif.
Menurutnya, bicara spesifik adalah berbicara langsung dengan kesehatan balitanya, seperti bagaimana asupan vitaminnya.
Sementara sensitif, berbicara tentang kecukupan makanan, tingkat ekonomi dan pola asupan untuk anak. “Dari faktor determinan itu, kita akan lihat dimana masalahnya, apakah dari air bersih atau lainnya,” katanya.
Penulis: */Sabri
Editor: M. Huldi