“Ada pembagian waktu yang berbeda, Erau dilaksanakan 8-15 September. Sedangkan TIFAF dilaksanakan 21-29 September 2019,” kata Sri, Minggu (1/9) kemarin.
Ia mengungkapkan, pelaksanaan pesta adat ini sesuai kesepakatan dengan Kesultanan Kutai Kertanegara bahwa Erau dipadukan dengan kegiatan religi seperti hatam alquran dan haul Sultan.
“Ini ditetapkan Kesultanan, ada hataman Alquran dan haul Sultan. Sedangkan prosesi adat Erau-nya tetap mangacu pada adat budaya para leluhur seperti yang terdahulu. Jadi lebih fokus dan lebih kental upacara Eraunya,” ungkapnya.
“Kemudian pada 21-29 itu TIFAF, akan ada karnaval seni internasional pentas seni rakyat Internasional, street performance, kemudian kunjungan ke sekolah. Jadi partisipan akan mengenal proses belajar-mengajar di Kukar dan mereka juga mengenalkan budayanya, pertukaran informasi,” beber Sri.
Kunjungan ke sekolah ini bertujuan untuk mengangkat budaya di Kukar, juga mengenalkan partisipan negara asing tentang bagaimana interaksi belajar.
Menurutnya, ada tujuh negara turut serta pada TIFAF 2019 ini sehingga pelaksanaannya diharapkan sukses dan bisa mengangkat posisi Kukar sebagai daerah yang mampuni di bidang pariwisata.
Negara peserta adalah Srilanka, Thailand, Rumania, Rusia Belanda, dua negara lagi masih dalam konfirmasi dengan CIOFF Indonesia. “Ada tujuh delegasi negara. Mudah-mudahan ini memicu peningkatan kunjungan wisata yang ke Kukar dan meningkatkan posisi daerah sebagai salah satu tempat pusat festival,” tegasnya.
Penulis: */Heriansyah
Editor: M.Huldi