Pemaparan dilakukan di hadapan tim KemenPAN-RB dan langsung dinilai tim panel independen di Jakarta. Jika dianggap baik, Kukar bisa terpilih menjadi Top 45 Inovasi Pelayanan Publik.
Presentasi berlangsung di Ruang Rapat Sriwijaya I, Kantor KemenPAN-RB lantai 2 di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta Selatan. Edi nampak percaya diri mempresentasikan program Inovasi Dagang Kemitraan (idaman).
“Program idaman ini merupakan program konkret untuk meningkatkan daya jual usaha mikro kecil dan menengah yang merupakan hasil sinergitas sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yakni DPMPTSP, Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Kesehatan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kukar, Akademisi dari Universitas Kutai Kartanegara, dan pihak Swasta yang terdiri dari UMKM, toko modern, dan Forum TJSP (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, Red) Kukar,” katanya.
Edi menyebut banyak sekali UMKM yang punya potensi pasar bagus, namun tidak memiliki akses terhadap pasar dan belum mendapatkan bimbingan dengan baik.
Oleh karena itu, dengan program idaman ini, diupayakan agar UMKM di Kukar bisa lebih berkembang. “Idaman ini adalah program kemitraan dari unsur akademisi sebagai pembimbing UMKM dan perusahaan lewat CSR (Corporate Social Responsibility, Red) mewadahi pemasarannya. Kini produk UMKM asli Kukar sudah terpampang di pasar-pasar modern,” ungkapnya.
Selain itu, Edi menilai program idaman ini juga menjadi ajang yang baik bagi sinergitas perusahaan dan pemerintah dalam menjawab tantangan. Diakuinya, CSR yang selama ini belum maksimal itu, dikarenakan perebutan ruang publik antara pemerintah dan swasta. “Ini menjadi jawaban tentang peran CSR yang kurang maksimal. Saat ini program ini sudah terstandarisasi dengan baik dan kita upayakan agar produk dari program ini bisa masuk ke bandara dan hotel-hotel sehingga muncul kultur yang baik untuk membeli barang produk UMKM daerah sendiri,” terangnya.
“Upaya pemerintah dalam dunia usaha saat ini terus berkembang dengan menghadirkan perusahaan dan akademisi. Memang sebelumnya sektor hilirnya belum terperhatikan secara baik. Jadi sekarang kita tidak berbicara hulunya saja, tapi hilirnya juga. Karena UMKM diharapkan nantinya bisa dipasarkan secara baik,” imbuh Edi.
Penulis: */Heriansyah
Editor: M.Huldi