Di lokasi acara, ribuan orang menyambut kedatangan Kepala
Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Mulyono. Ratusan pelajar, mulai dari
SD hingga SMA berjejer di kanan kiri jalan dengan bendera Merah Putih di tangan mereka.
Di antaranya yang hadir adalah Yadi. Warga Desa Melintang
ini tak mau ketinggalan meramaikan puncak TMMD tahun ini. Ia bahkan datang ke
lokasi acara sebelum matahari bersinar penuh. Kehadiran di acara itu sebagai
cara dia mengekspresikan rasa terima kasihnya atas kerja keras TNI membangun
jembatan sepanjang 1.100 meter yang menghubungkan Desa Melintang ke Desa
Sebemban.
Desa Melintang dengan populasi 1.788 (data Pemcam Muara Wis
per Oktober 2018) memang termasuk desa beruntung. Berkat program
ekslarasi yang digagas TNI AD, desa itu kini tidak dari terisolir.
Desa Melintang berdiri seratusan tahu lalu. Desa ini
berangsur ramai setelah kedatangan penduduk dari Kalimantan Selatan yang
mengadu nasib sebagai nelayanan di danau terbesar ketiga di Kalimantan Timur itu, setelah Danau Jempang dan Danau Semayang.
TMMD ke-103 digelar serentak secara nasional dengan tajuk
"TNI Manunggal Rakyat Dalam Mewujudkan Desa yang Maju Sejahtera dan
Demokratis". Kegiatan itu bertujuan membentuk kesejahteraan dan pemahaman
demokrasi kepada masyarakat.
Tak kurang dari 50 desa di 50 kabupaten masuk dalam program
TMMD ke-103 ini. Target TNI AD membangun 52 kilometer jalan baru (termasuk
jembatan) dan 326 kilometer peningkatan badan jalan terpenuhi.
Selain pembangunan infrastruktur, TMMD juga menyasar
kegiatan non fisik, seperti penyuluhan dan layanan kesehatan serta bakti
sosial.
KASAD Jenderal TNI Mulyono mengatakan kegiatan ini sudah
terkoordinir, terpadu, dan terkoordinasi dengan kepentingan rakyat. TMMD yang
digelar setiap tahun juga selaras dengan Nawacita Presiden RI Joko Widodo:
Membangun Indonesia dari Pinggiran.
Di Desa Melintang, kehadiran Satgas TMMD ke-103 Kodim
0906/Tenggarong disambut suka cita masyarakat. Mereka sadar kehadiran TNI bisa
menebas keterisoliran infrastruktur dan wawasan.
Tanpa diminta, warga secara swadaya turut membantu TNI
membangun jembatan ulin dengan medan super berat tersebut. Mulai dari
distribusi logistik 400 kubik kayu, hingga tancapan paku terakhir, warga
dilibatkan.
Camat Muara Wis, Arianto mengatakan, dahulu Desa Melintang
hanya bisa diakses menggunakan jalur air. Ketinting atau ces--sebutan masyarakat
sekitar-- menjadi penopong andalan untuk menjangkau desa-desa tetangga atau ke
ibu kota kecamatan hingga ke kota.
Kini, setelah jembatan itu rampung dibangun, masyarakat bisa
ke mana saja. Hadirnya jembatan praktis memberikan efek positif, produk olahan
dan hasil tangkapan nelayan tak lagi dijual murah karena pemasaran kian mudah.
Anak-anak yang menempuh pendidikan di SMAN 1 Muara Wis juga tak perlu takut
terlambat ke sekolah.
"Masyarakat kami merasa bahagia dan senang dengan
program ini, karena selama ini mereka terisolir. Tidak adanya akses masuk dan
keluar selain menggunakan perahu. Dengan jembatan 1.100 meter ini mempermudah
akses mereka masuk dan keluar," ungkap Arianto.
Kepala Desa Melintang, Muhdi berkata Desa Melintang dulunya
terkenal dengan sebutan 3T (Terpencar, Tertinggal, dan Terisolir). Desa
Melintang juga tergolong desa tertinggal di Kecamatan Muara Wis menurut Indeks
Desa Membangun.
Namun, kini paradigma itu tidak lagi melekat. Desa Melintang
mulai bangkit mengejar ketertinggalan setelah terkoneksinya pemukiman dan
jembatan ulin sepanjang 1.100 meter dengan lebar 4 meter, hasil kerja keras
TNI, Polri, dan masyarakat. "Kami sangat terbantu," ungkap Mahdi.
Jembatan yang membentang di tengah danau ini tergolong unik.
Maka tak mustahil, jembatan itu akan menjadi objek wisata baru di kawasan hulu
Mahakam. Bila benar, kerja keras TNI akan memberikan multi efek terhadap
pertumbuhan perekonomian bagi warga di wilayah itu.
PERPISAHAN YANG
MENGHARUKAN
Keakraban warga Desa Melintang dengan prajurit TNI
betul-betul terjalin layaknya keluarga. Selama beberapa pekan, puluhan prajurit
matra darat di bawah Komandan Satgas TMMD ke-103 tahun 2018 Kodim
0906/Tenggarong Letkol Czi Bayu Kurniawan hidup membaur dengan warga.
Mereka diberi tempat untuk tinggal di rumah-rumah penduduk. Sehingga wajar, warga berat berpisah dengan abdi negara yang paling
dipercayai publik ini. (survei Charta Politica 2018).
"Awalnya kami takut akan kehadiran tentara, seperti mau
perang. Tapi setelah kita tinggal satu atap, makan sama-sama, stigma TNI yang
sangar ternyata tidak seperti yang kita pikirkan,” ungkap Ali, salah seorang
warga yang rumahnya ditempati Satgas TMMD ke-103 tahun 2018 Kodim 0906/Tenggarong.
Karena keramahan TNI itu pula, tak sedikit pemuda di Desa
Melintang yang ingin mengabdikan diri mereka menjadi tentara. Keinginan itu
direspon baik oleh Komandan Resort Militer 091/Aji Surya Natakusuma Brigjen TNI
Irham Waroihan dan Komandan Distrik Militer 0906/Tenggarong Letkol Czi Bayu
Kurniawan.
TMMD tahun ini merupakan kali kedua yang dilaksanakan di
Kecamatan Muara Wis. Pada 2016 lalu, melalui TMMD ke-97, TNI AD membangun jalan
sepanjang 17.000 meter di Dusun Katibeh, Desa Muara Enggelam.
Yang membedakan, puncak TMMD ke-103 tahun 2018 Kodim
0906/Tenggarong lebih meriah. Ada aksi terjun payung dari prajurit Kopassus,
bakti sosial; pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan KB, pembagian sembako,
kaki palsu, dan hiburan rakyat bertabur doorproze.
Kehadiran KASAD Jenderal TNI Mulyono juga menjadi magnet sehingga TMMD ke-103
tahun 2018 Kodim 0906/Tenggarong benar-benar membekas di hati rakyat. (supiansyah)