“Sebenarnya semuanya sudah siap, namun karena rasionalisasi anggaran,” kata Boma dikonfirmasi Koran Kaltim, Rabu (10/9).
Sebelumnya dikabarkan puluhan warga di desa itu meninggal karena muntaber dalam beberapa tahun terakhir. Setiap musim kemarau, selalu saja ada warga yang meninggal karena sulitnya mendapatkan air bersih di wilayah itu.
Kondisi ini diperparah lantaran tidak aktifnya Puskesmas Muara Pantuan. Warga terpaksa berobat ke Sungai Mariam yang jaraknya tiga jam atau ke RSU Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Beberapa di antaranya mereka gagal bertahan karena tak mendapat penanganan dengan cepat.
“Ada banyak warga yang meninggal karena tidak sempat mendapatkan pertolongan pertama,” Kepala Desa Muara Pantuan, Rasyid.
Salah satu warga yang meninggal adalah Saksia (5). Putri dari Aida itu meninggal saat menjalani perawatan di RSU AW Sjahranie Samarida. “Kata dokternya pertolongannya terlambat,” aku Aida.
Menurut Arfan Boma, kapan akan diaktifkannya kembai Puskesmas Muara Pantuan belum bisa dipastikan. “Anggaran sebenarnya ada, realisasinya ini yang kita khawatirkan,” paparnya.
Merekrut tenaga medis di wilayah terpencil seperti Muara Pantuan juga tak boleh sembarangan. Sebab, dalam beberapa kasus, banyak tenaga kesehatan yang tidak aktif atau malah kabur lantaran tak betah bertugas di pelosok.
“Kenapa mereka sering tidak di tempat itu, sebenarnya persoalan gaji. Nah, jangan sampai seperti itu, kajian untuk usulan perbaikan gaji atau penghasilan tenaga medis menyesuaikan dengan tempat tugas. Makin ke kota semakin kecil besarannya, namun standar gajihnya sama” terangnya.
“Ketika soal gajih, infrastruktur, dan lain-lainnya terpenuhi. Jadi sekaligus jalannya, kita persiapkan kebutuhannya sekaligus dengan standar gaji yang baru,” demikian Boma. (rf218)