Tahap awal di 2018 ini Pemprov mengalokasikan anggaran sekitar Rp 2 miliar untuk pembebasan lahan dan land clearing. “Kami sudah cek lokasi dan memang strategis karena di tengah-tengah kota,” kata Kades Kembang Janggut, Yadi.
Dengan persiapan ini maka kemungkinan fisik terminal tersebut dibangun di 2019 mendatang. “Dampaknya akan besar dengan keberadaan terminal itu, terutama ekonomi warga,” bebernya.
Pasalnya, terminal ini menjadi akses terdekat warga baik Kukar, Kutai Timur dan Kutai Barat. Tentunya berdampak ada geliat pertumbuhan ekonomi warga, selain itu juga untuk mempermudah jika warga ingin bepergian.
“Selama ini memang tidak ada taksi, jadi nanti jika dibangun maka informasi akan ada Bus Damri,” ungkap Yadi saat dihubungi Koran Kaltim, Kamis (27/9/2018).
Ia pun mengaku sangat antusias dengan rencana pembangunan terminal ini. Sebab diharapkan terbangunnya terminal di wilayah hulu sebagai terminal transit antar Kabupaten Kubar dan Kutim dan juga antar kecamatan di wilayah hulu mahakam adalah mengaktifkan lahan-lahan kosong di sekitar terminal agar lebih produktif yang bernilai ekonomi. “Ini bisa mendorong ekonomi mikro berbasis kerakyatan di wilayah desa dan kecamatan Kembang Janggut, menarik para investor untuk menanamkan modal dalam berbagai bidang, menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga Kembang Janggut,” katanya.
Lokasi terminal memiliki letak geografis yang strategis sehingga menjadikan desa Kembang Janggut sebagai lintasan yang sangat menguntung bagi arus transportasi antar kecamatan bahkan kabupaten. (ami)