“Padahal baru aja habis ceritaan sama Plt Bupati kemarin. Heran, dosa apa saya ini, seharusnya kan berderet dulu, ini jaraknya jauh dari lokasi sebelumnya. Sekarang kita was-was karena ini bisa longsor kapan aja,” kata Sukri R kepada Koran Kaltim, Minggu (16/9).
Sebelumnya, dua rumah telah lebih dulu longsor akibat pada Jumat (14/9) petang. Salah satu pemilik rumah, Iriansah mengaku sempat mendengar retakan keras sebelum rumahnya longsor. “Magrib itu, ketika mau nutup pintu belakang ternyata tidak bisa, lantainya bergeser. Enggak lama setelah itu, ada suara retakan keras. Panik, anggota keluarga evakuasikan diri dan enggak lama roboh, barang-barang di dapur tidak terselamatkan,” terang Iriansah.
Kepala BPBD Kukar, Marsidik, menuding rentetan keramba yang terikat pada pondasi rumah warga sebagai penyebab abrasi itu dan bisa ditangani secara swadaya oleh masyarakat sekitar. “Keramba yang terikat ke pondasi rumah. Air sungai yang pasang surut itu menyebabkan tanah tertarik ke arah sungai sehingga mebuat longsor rumah-rumah tersebut,” ujarnya.
Ketua RT 04, Sukri memastikan keramba bukanlah penyebab dari abrasi tersebut. Menurutnya, tidak ada keramba yang terikat pada pondasi rumah, semuanya menggunakan jangkar terbuat dari semen dan tidak mungkin hanyut. “Bukan keramba penyebabnya, bisa saja faktor kendaraan besar yang mengangkut alat berat yang lalu lalang semenjak jalan ini di semenisasi. Kemungkinan bakal ada abrasi lanjutan mengingat jarak rumah saya dan rumah sebelumnya tidak jauh” pungkasnya. (rf218)