“Kami jual Rp 50 per kg. Kalau harga tinggi ya siapa yang mau beli, ini saja saya sebenarnya merugi dan sukur-sukur bisa memutar dagangan. Kalau terus-terusan begini bisa-bisa kita bangkrut,” ujar Hasan saat berbincang dengan Koran Kaltim, kamis (26/7).
Hasan pun sampai saat ini belum tahu pasti penyebab kenaikan harga daging ayam itu. Ia bersama pedagang lainnya terpaksa menaikan harga jual lantaran dari pengepulnya saja sudah tinggi dengan modal Rp 45 ribu per kg.
“Kita menaikan harga ini tergantung suplayernya saja, kalau dari sananya sudah naik terpaksa kita naikan juga harganya di pasar,” tuturnya.
Sekretaris Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (Gepak) Tenggarong, Ahmad Husaini mengaku juga ikut memantau pergerakan harga ayam potong.
Kondisi ini, dikatakannya, jelas mengancam usaha warung-warung makan. “Banyak pengusaha warung makan yang bilang sama saya, kalau mereka bingung dengan harga ayam yang masih tinggi ini. Dilemanya warung makan itu, apabila terus memaksakan untuk tetap menjual dengan harga tetap ya rugi, jika dinaikan harganya maka tidak ada yang beli. Kalau tidak dagang mereka mau makan apa,” kata Ahmad.
Ahmad berharap Pemkab dan DPRD Kukar turun tangan mengatasi kondisi ini. “Jangan sampai menunggu pedagang bangkrut terlebih dahulu baru turun tangan,” demikian Ahmad. (rf218)