“Semua olahraga tradisional yang kita lomba kan dalam Erau tahun ini banyak pesan dan makna halus terkandung didalamnya. Ini warisan dan pesan langsung dari leluhur kita agar tetap kita jaga dan lestarikan. Jangan kejar hadiahnya tapi kejar edukasinya dan tetap konsisten melestarikannya,” katanya kepada Koran Kaltim, kemarin.
Uyun sapaan akrabnya menjelaskan salah satu makna filsofis bermain egrang ialah seseorang dituntut untuk menantang ketakutannya sendiri dengan terus berjalan dan maju menghadapi tantang yang ada dihadapnnya.
“Dikatakan menantang karena menuntut keterampilan dan keseimbangan tubuh agar bisa menaiki dan menjalankan Egrang, berjalan di atas kayu, jadi permainan Egrang ini tidak hanya sekedar untuk bersenang-senang belaka namun juga mengajarkan nilai konsentrasi tinggi bagi para pemainnya. Kerja keras, sportivitas, keuletan, percaya diri, tekad keberanian yang tinggi, konsentrasi penuh, jangan cepat takut kalau jatuh dan yang terakhir adalah sportivitas inilah makna dan pesan mendalam dari Egrang,” jelasnya.
Yang tak kalah seru dari lima olahraga tradisional yang dilombakan pada Erau tahun ini ialah Kelom Panjang atau biasa disebut Bakiak dan Terompah.
Uyun menegaskan makna dari permainan yang diikuti lima orang menggunakan sandal panjang itu diibaratkan rakyat. Butuh semangat yang kuat, tekad yang kuat dan yang paling penting kekompakan yang nyata agar bersama-sama mencapai tujuan dan tidak terpisah satu dengan yang lainnya. (hei)