“Untuk Beseprah itu bukan dari kami tapi semua dinas yang betulungan (gotong royong, Kutai, Red) menyajikan makanan. Ini solusi mengatasi keterbatasan anggaran,” katanya kepada Koran Kaltim, kemarin.
Diketahui, dalam Beseprah, masyarakat membaur bersama pejabat dan kerabat Kesultanan Kutai secara berkelompok mengelilingi hidangan yang telah disediakan.
Di masa lalu, beseprah diselenggarakan Sultan yang berkuasa sebagai jamuan persembahan bagi rakyatnya. Jamuan tersebut menjadi simbolisasi harapan dan doa yang dipanjatkan oleh Sultan agar dapat menjadi pemimpin yang selalu mengayomi masyarakat. Acara ini pun menjadi perlambang keinginan Sultan untuk membaur dan merasakan yang dirasakan oleh rakyatnya.
Meski secara politis Kesultanan Kutai tidak lagi memerintah warga Kutai, nilai-nilai ini tetap dilestarikan oleh Pemkab Kukar.
Jika dahulu pihak Keraton yang menyuguhkan aneka hidangan bagi masyarakat, maka kini hidangan-hidangan tersebut disediakan oleh jajaran Pemkab Kukar. “Sama seperti tahun sebelumnya, Beseprah tahun ini akan dilaksanakan di depan Kedaton dan Monumen Pancasila dekat Masjid Jami Hasanudin Tenggarong,” tambah Anjar.
Beseprah memang melambangkan kesejajaran antar berbagai kalangan masyarakat. Secara pemaknaan, beseprah berarti duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Penyelenggaraan ritual ini setiap tahunnya dapat dimaknai sebagai ajang menjalin rasa persaudaraan warga Kutai dan mempererat silaturahmi antarsesama. Selain itu, dalam tradisi ini, terdapat pesan moral bahwa seorang pemimpin haruslah dekat dan membaur dengan semua rakyatnya. (hei)