“Kami tidak mungkin mengikuti sistem itu, karena pendaftar tidak hanya dari Kukar, namun dari Kota Bontang juga Balikpapan, bahkan Paser pun ada, rata-rata dari daerah jauh semua,” kata Djunijanto kepada Koran Kaltim, Kamis (5/7).
Tahun lalu, lanjutnya, SMAN 3 Unggulan hampir tidak memenuhi jumlah target penerimaan siswa. Hanya ada 70-an pendaftar secara online dan semuanya diterima lantaran kekurangan murid. Berkaca pada hasil evaluasi tahun lalu, pihaknya diizinkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menggelar PPDB lebih awal.
“Kami sudah melakukan penerimaan siswa pada Februari lalu secara manual, dari 140 pendaftar ada 100 orang yang lolos. Kalau tahun ini kita lakukan penerimaan online lagi, bisa jadi kita tidak kebagian murid lantaran harus sesuai zonasi,” terangnya.
Menurut Junianto, peminat SMA 3 Unggulan Tenggarong menurun karena biaya makan selama di asrama tidak di tanggung Disdikbud Kaltim. Berbeda ketika masih ditangani Disdikbud Kukar, biaya makan siswa ditanggung oleh pemerintah daerah.
“Jumlah peminatnya semakin turun, karena biaya makan anak selama di asrama sekarang di bebankan ke siswa, itu dirasa agak memberatkan siswa untuk sekolah di sini. Subsidi (Disdikbud Provinsi Kaltim) memang ada dalam bentuk uang langsung rekening siswa,” demikian Djunianto. (rf218)