Ia membeberkan, berkurangnya jumlah DPT di lapas ini karena beberapa napi yang sebelumnya masuk dalam DPT ternyata masa tahannya berakhir atau bebas sebelum pencoblosan 27 Juni 2018 atau hari ini. “Bahkan hari ini (Selasa kemarin, Red) ada enam napi yang bebas,” ungkapnya.
Menurutnya, jumlah DPT atau pemilih di Lapas Klas II Tenggarong fluktuatif atau tidak tetap karena tahahan hampir setiap pekan masuk ke Lapas. “Ini adalagi dari Kubar yang mau masuk tapi kami tahan dulu sampai Pilgub selesai, mereka kan tentu punya hak suara juga,” bebernya.
Di Lapas Klas II B Tenggarong sendiri memiliki dua Tempat Pemungutan Suara (TPS) yakni 72 dan 73 dengan rincian, sekitar di TPS 72 ada 619 pemilih dan TPS 73 ada 568 pemilih. “Untuk tahanan yang baru masuk setelah penetapan DPT, kami menunggu KPU saja karena sudah kami laporkan,” jelasnya.
Keberadaan dua TPS di Lapas Klas II B Tenggarong ini sendiri membuat Kalapas menunjuk sendiri stafnya menjadi petugas pemungutan suara (PPS) dan menjadi Linmas. “Kalau di sini PPS itu staf kita, untuk pengamanan tentu ada juga bantuan dari pihak kepolisian,” bebernya.
JJ Siathen pun menegaskan jika di dalam Lapas tersebut tidak ada ada money politic atau eksodus pemilih. “ “Kami keluarga besar Lapas Klas II B Tenggarong siap sukseskan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim tanpa money politic,” terangnya. (ami)