Panitia Pelaksana Kegiatan tersebut, Annisya Amelia Rukhmana A yang akrab disapa Nesa mengatakan event rutin tahunan yang diselenggarakan selama Ramadan tersebut mengangkat tema “Ramah Sumeringah” yang erat kaitannya dengan toleransi antar umat terutama dari sudut agama Islam.
“Islam telah mampu beradaptasi dan beralkulturasi dengan tradisi dan budaya lokal, banyak persilangan tradisi dan budaya pribumi yang kemudian menghasilkan tradisi baru yang islami,” kata Nesa kepada Koran Kaltim, Sabtu (9/6).
Melihat kondisi tersebut, pihakya mencoba mengungkap konsep “Ramah Sumringah” bergembira dengan keramahan mengakomodir pertunjukan teater tari dan puisi menjadi cara menenangkan ketakutan atau phobia terhadap Islam.
“Beragamnya cara beragama umat Islam adalah satu hal yang tak terbantahkan. Bahwa Islam diturunkan ke dunia ini tidak lain adalah untuk menjadi rahmat semesta alam,” tuturnya.
Seperti even Sahur Mayur tahun-tahun sebelumnya, uang tiket (HTM) seharga Rp 20 ribu perorang yang terkumpul pada acara tersebut didonasikan kepada seniman musikalisasi puisi Ari Malibu yang sedang menderita kanker kerongkongan dan TBC.
“Sebelumnya, Ari Malibu pernah datang ke Ladaya. Mudah-mudahan uang HTM yang terkumpul ini bisa meringankan yang dideritanya sebagai bantuan biaya pengobatan,” demikian Nesa. (rf218)