“Saya masuk ke sini pada 2014, pengerjaanya hampir kelar namun ditinggalkan begitu saja. Tidak hanya lantai, namun bisa dibilang semuanya belum klir, yang selesai hanya jendela dan bagian pintu lantai atas bawah,” kata Kepada SDN 009 Tenggarong, Agus Sutarto saat ditemui Koran Kaltim, Selasa (15/5).
Pantauan Koran Kaltim, tiga ruang mangkrak itu digunakan murid kelas I, II, dan V. Bagian lantai hanya beralaskan pasir yang diplaster semen ala kadarnya dan dilapisi terpal serta karpet.
Gesekan bangu dan meja menyebabkan lantai terkikis. Inilah yang menyebabkan ruangan kelas itu berdebu.
Di musim hujan, ruang kelas ini juga becek akibat air masuk ke dalam. Penyebabnya, teras lebih tinggi daripada lantai ruang kelas.
“Karena kita hanya pakai semen sisa, begitu diinjak anak-anak semennya pecah-pecah, terpal dan karpet untuk melapisi lantai pun ikut rusak. Itu lah yang menyebabkan debu. Apalagi kalau hujan lebat, air itu bisa menggenangi ruangan kelas,” terang Agus.
Akibat ruangan yang berdebu, lanjut Agus, beberapa anak kerap tidak masuk sekolah. Mereka takut terkena asma. “Ada yang memang mengidap asma lalu tidak masuk sekolah karena orangtuanya khawatir penyakitnya kambuh,” terang Agus.
Pihak sekolah sudah beberapa kali mengajukan proposal ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar agar gedung mangkrak itu dilanjutkan. Namun hingga kini usulan itu belum direalisasikan. “Infonya dari Disdikbud Kukar akan menganggarkan tahun ini,” ungkapnya. (rf218)