Menurut Tri, untuk menanggulangi kemiskinan dibutuhkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Pertumbuhan ekonomi yang selalu minus seperti saat ini akan menjadi kendala utama. Apalagi laju inflasi terus meningkat dengan naik harga barang-barang kebutuhan pokok.
“Inflasi tidak bisa dihindari, akan tetapi bisa berimbang dengan pertumbuhan ekonomi yang positif. Di Kukar inflasi berjalan akan tetapi pertumbuhan ekonominya selalu minus,” paparnya.
Tri menambahkan, roadmap kemiskinan sangat penting guna menyusun strategi pemberdayaan masyarakat dengan memanfaat potensi lokal, karena peta kemikinan di tiap kluster hulu, tengah dan pesisir berbeda-beda.
Selain itu, untuk mencapai target pengentasan kemiskinan, beberapa indikator kemiskinan juga akan diubah. “Program yang bisa dijalankan, program bantuan sosial terpadu, berbasis pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan usaha mikro dan kecil, serta program lainnya. Sasaran program yang disasar adalah masyarakat miskin dan rentan miskin,” katanya.
Kepala Bappeda Kukar, Wiyono mengakui penurunan angka kemiskinan jumlah penduduk Kukar yang mencapai 717,789 jiwa berjalan lambat, bahkan cenderung meningkat.
Menurut Wiyono, larakteriktik kemiskinan di Kukar dapat diukur dari kelayakan tempat tinggal, jangkauan fasilitas kesehatan yang layak, pendidikan yang berkualitas, serta terbukannya lapangan pekerjaan.
“Angka kemiskinan yang mencapai 7,99 persen dari total penduduk Kukar jangan semakin bertambah lagi. Program pengentasan kemiskinan yang dibuat Pemkab Kukar harus tepat sasaran, sehingga orang miskin bisa sejahtera, seperti program bedah rumah harus tepat sasaran bagi orang miskin,” paparnya. (ran)