Taufik merincikan antara 2015-2016 produksi kebun rakyat selalu menurun, seperti kelapa sawit dari 225.943 ton menurun menjadi 202.931 ton. Karet dari 9.084 ton turun jadi 7.098 ton. Lada dari 4.763 ton turun menjadi 2.541 ton. Kopi dari 62 ton menjadi 28 ton. Kakao dari 70 ton menjadi 34 ton, dan Kemiri dari 38 ton menjadi 10 ton.
“Penyebab penurunan alih fungsi lahan dari perkebunan ke pertambangan. Dan juga petani kebun semakin menurun dengan beralih ke pekerjaan lain,”jelasnya.
Sementara itu Dosen Fakultas Pertanian Unikarta Ince Raden mengatakan turunnya jumlah produksi itu disebabkan beberapa faktor, di antaranya berkurangnya perkebunan akibat alih fungsi lahah. Tak sedikit petani yang menjual perkebunan mereka ke perusahaan-perusahaan tambang batu bara.
Selain itu, tanaman kebun rakyat yang mempunyai ciri khas Kukar, tanpa upaya dilakukan budi daya belum dilakukan pengembangan secara besar-besaran, seperti komoditas kopi yang terdapat di Loa Kulu.
Doktor lulusan IPB ini menambahkan, pengembangan komoditas pertanian di luar musim bisa dilakukan, dengan modifikasi sistem pertanian, seperti dengan penambahan pupuk, mengatur stabilitas air serta mengatur pencahayaan yang menjadi kebutuhan tanaman, sambil diperkuat dengan kondisi iklim dan lahannya.
“Yang penting mau pengembangan produk pertanian dan perkebunan secara massal dengan dilakukan budi daya dan modifikasi teknis penanaman ini bisa dilakukan,”ujarnya. (ran)