Meski terdeteksi pada sejumlah titik, konsentrasi merkuri yang ditemukan masih berada di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Karena itu DLH belum menyimpulkan adanya pencemaran berdasarkan temuan tersebut.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Mahulu Aloysius Irang Jiu mengatakan, keberadaan parameter merkuri tetap menjadi bagian penting yang harus dipantau secara konsisten.
“Secara umum kondisi kualitas air masih relatif baik. Memang terdapat beberapa parameter pada titik tertentu yang perlu menjadi perhatian. Untuk parameter yang terdeteksi tetapi masih berada di bawah baku mutu, tentu belum dapat langsung disimpulkan sebagai kondisi pencemaran,” kata Aloysius, Senin (30/8/2026).
Pemantauan kualitas air tersebut dilakukan pada 16 titik di sejumlah wilayah Mahulu. Selain merkuri, DLH juga menemukan sejumlah parameter lain yang perlu mendapat perhatian. Di Sungai Pariq, Kampung Lutan, hasil pengujian mencatat Total Suspended Solid (TSS) sebesar 68 mg/liter. Sementara di Sungai Ratah, Kampung Danum Paroy, parameter warna tercatat mencapai 74 Pt-Co. Penyimpangan temperatur juga ditemukan pada titik pemantauan di Long Pakaq dan Long Pahangai 2.
Data hasil pemantauan semester pertama tersebut akan digunakan sebagai baseline untuk melihat perubahan kualitas air pada pemantauan berikutnya. Yang menjadi perhatian bukan hanya kondisi parameter pada satu periode pengujian, tetapi juga kecenderungannya dari waktu ke waktu.
“Yang penting bagi kami adalah melakukan pemantauan dan melihat kecenderungannya dari waktu ke waktu,” paparnya.
DLH juga akan memperkuat pemetaan sumber tekanan yang berpotensi memengaruhi kualitas air. Langkah tersebut diperlukan agar setiap perubahan parameter dapat ditelusuri penyebabnya, baik yang berasal dari proses alami maupun aktivitas manusia.
“Kami perlu mengetahui sumber tekanannya. Jadi tidak cukup hanya mengetahui ada parameter yang meningkat atau terdeteksi, tetapi harus ditelusuri apa penyebabnya dan dari mana sumbernya. Dengan data itu, langkah pengendalian bisa dilakukan secara lebih tepat,” jelas Aloysius.
Sejumlah faktor yang menjadi perhatian antara lain erosi dan sedimentasi, aktivitas domestik masyarakat, pembukaan lahan, kegiatan usaha, serta aktivitas lain di sekitar daerah aliran sungai. Khusus terhadap temuan merkuri di lima titik, DLH akan melihat hasil tersebut sebagai data awal untuk dibandingkan dengan hasil pemantauan selanjutnya.
Temuan merkuri yang masih berada di bawah baku mutu tidak dapat langsung diartikan sebagai pencemaran. Namun, pemantauan tetap diperlukan untuk memastikan tidak terjadi peningkatan konsentrasi pada periode berikutnya.
“Justru karena secara umum kondisinya masih relatif baik, kualitas ini harus kita pertahankan. Jangan menunggu sampai terjadi penurunan kualitas baru kita melakukan tindakan,” tegasnya.
DLH Mahulu juga mengingatkan masyarakat untuk ikut menjaga kualitas badan air dengan tidak membuang sampah maupun limbah sembarangan serta menghindari aktivitas yang berpotensi menurunkan kualitas sungai.
Ke depan, pemantauan kualitas lingkungan akan terus diperkuat. Selain kualitas air, DLH juga mendorong penguatan pemantauan kualitas udara, kondisi tanah, dan perubahan tutupan lahan. Data tersebut diharapkan menjadi dasar pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pengawasan, pencegahan pencemaran, pengendalian kerusakan lingkungan, serta pengambilan kebijakan berdasarkan kondisi lingkungan di lapangan.
Editor: Aspian Nur