Ketua Perkumpulan Asosiasi Seni Kubar Maria Christina Mozes Edwin mengatakan, organisasi tersebut akan berfokus pada peningkatan, pengembangan, pembinaan dan optimalisasi potensi para pelaku seni, termasuk memperkuat keberadaan sanggar-sanggar seni di Kubar sebagai ruang bagi para penggiat seni untuk berkarya.
Menurut Maria, seni dan budaya bukan sekadar bentuk kreativitas maupun hiburan. Keduanya merupakan bagian dari identitas daerah dan warisan leluhur yang perlu dijaga keberlangsungannya di tengah perubahan zaman.
Tantangan itu semakin terasa dengan perkembangan teknologi, media sosial serta masuknya berbagai budaya dari luar yang dapat memengaruhi minat generasi muda terhadap seni dan budaya lokal. Namun, perkembangan media sosial juga dinilai membuka peluang bagi seniman Kubar untuk memperkenalkan karya dan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Karena itu, asosiasi ingin mendorong tumbuhnya kreativitas sekaligus kaderisasi generasi muda. Anak-anak muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi mendapat ruang untuk mengenal, mempelajari dan mengembangkan seni budaya yang ada di daerah.
“Kami ingin mendorong tumbuhnya kreativitas serta kaderisasi generasi muda sebagai penerus dan penggiat seni dan budaya daerah,” kata Maria kepada Korankaltim.com disela pelantikan.
Sejumlah program mulai disiapkan diantaranya menghidupkan kembali pentas seni rutin setiap malam Minggu di Lamin Taman Budaya Sendawar (TBS). Selain itu, asosiasi juga merencanakan Festival Karya Pelajar yang melibatkan peserta didik jenjang SD, SMP hingga SMA/SMK.
Festival tersebut diharapkan menjadi ruang bagi pelajar untuk menunjukkan bakat sekaligus mengenal lebih dekat seni dan budaya daerah. Asosiasi juga menyiapkan Festival Karya Kerajinan yang melibatkan berbagai kategori untuk memberi kesempatan kepada pelaku seni dan kerajinan menampilkan karya mereka.
Pelaksanaan program membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat. Ia berharap asosiasi dapat menjadi wadah bersama bagi sanggar, seniman, penggiat seni dan pencinta budaya untuk menyampaikan ide serta mengembangkan berbagai kegiatan.
“Kami memohon dukungan penuh dari Bupati Kutai Barat dan seluruh elemen masyarakat serta pemerintah daerah, agar program-program yang akan kami jalankan dapat terlaksana dengan baik dalam menjaga dan melestarikan seni budaya Kutai Barat,” harap Maria.
Sementara Bupati Kubar Frederick Edwin berharap organisasi yang baru terbentuk tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi segera bergerak melalui program kerja yang nyata dan berkelanjutan.
Pembinaan seni diminta diperluas hingga ke kampung-kampung, terutama dengan memberikan ruang kepada generasi muda untuk menyalurkan bakat dan mendapatkan bimbingan sesuai minat serta potensinya.
“Kepada pengurus yang baru dilantik, saya berharap dapat segera menyusun program kerja yang nyata dan berkelanjutan, serta memperluas pembinaan seni hingga kepada generasi muda di kampung-kampung,” kata Frederick.
Seni dan budaya dapat menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan sekaligus menjaga identitas daerah di tengah keberagaman masyarakat Kubar.
Dengan terbentuknya Perkumpulan Asosiasi Seni, pekerjaan berikutnya bukan sekadar menjalankan organisasi, tetapi memastikan ruang berkarya dan proses regenerasi terus berjalan. Pentas seni, festival, pembinaan sanggar hingga pelibatan generasi muda menjadi bagian dari upaya menjaga agar seni dan budaya Kubar tetap hidup dan berkembang.
Editor: Aspian Nur