Asisten I Sekretariat Kabupaten Mahulu, Agustinus Teguh Santoso mengatakan, pembakaran ladang saat kemarau masih panjang karena berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sulit dikendalikan.
Kebiasaan masyarakat membakar ladang biasanya dilakukan menjelang musim hujan agar lahan yang telah dibakar dapat segera dimanfaatkan.
Namun, kondisi saat ini berbeda karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung cukup panjang.
“Biasanya membakar ladang ini kan transisi antara kemarau menuju hujan. Sehingga dibakar, kemudian ada hujan, dan itu waktunya untuk menanam. Tapi kalau kemaraunya masih panjang, kita takutnya membakar ladang merembet ke mana-mana,” kata Tegus Senin (31/8/2026).
Kondisi asap yang dirasakan masyarakat Mahulu saat ini sebagian besar merupakan kiriman dari kabupaten induk yakni Kabupaten Kutai Barat (Kubar), yang berbatasan langsung dengan Mahulu.
Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah daerah, terdapat puluhan titik karhutla di wilayah Kubar. Kondisi tersebut menyebabkan asap terbawa hingga ke wilayah Mahulu dan mulai mengganggu kualitas udara.
“Di Mahakam Ulu ini memang disiagakan semua supaya karhutla betul-betul bisa ditekan. Kami bersyukur untuk Mahakam Ulu masih di posisi paling sedikit di Kalimantan Timur untuk kasus pembakaran hutannya,” sebut Teguh lagi.
Pemerintah setempat sebelumnya menemukan dua titik panas di kawasan perbatasan namun titik tersebut telah berhasil ditangani dan pada pekan ini tidak ditemukan lagi kasus pembakaran hutan.
“Yang kami dapat sekarang hanya kiriman asap dari Kubar yang betul-betul terjadi pembakaran hutan dan kasus karhutla,” paparnya.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian karena dampaknya mulai dirasakan masyarakat. Pemerintah daerah bahkan telah mengeluarkan imbauan agar aktivitas masyarakat di luar rumah dikurangi apabila kualitas udara berada pada kondisi yang membahayakan.
Dampak paparan asap juga mulai terlihat dari meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Mahulu.
“Dari Dinas Kesehatan sudah melaporkan terjadi lonjakan kasus ISPA, dua kali dibandingkan bulan yang lalu. Artinya betul-betul mulai dirasakan,” ungkapnya.
Angka tersebut baru menggambarkan masyarakat yang datang berobat ke rumah sakit maupun puskesmas. Sementara masyarakat yang mengalami gejala tetapi tidak mendapatkan pelayanan kesehatan diperkirakan masih lebih banyak. Karena itu pemerintah meminta masyarakat bersama-sama mencegah terjadinya karhutla, termasuk tidak melakukan pembakaran ladang selama kondisi kemarau dan kualitas udara masih mengkhawatirkan.
Agustinus juga meminta sekolah mempertimbangkan pembelajaran dari rumah apabila kondisi udara semakin memburuk dan mulai mengganggu kesehatan peserta didik.
“Kami sudah menetapkan siaga bencana. Ayo sama-sama menjaga hutan kita, jangan sampai terbakar,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur