Pengusaha ayam petelur di Kampung Ujoh Bilang, Nur, mengatakan bantuan penanaman jagung yang selama ini didukung berbagai pihak, termasuk Polres Mahulu, masih belum mampu memenuhi kebutuhan pakan ternaknya secara menyeluruh.
“Untuk bantuan dari Polres Mahulu berupa penanaman jagung tetap berjalan, tetapi tidak akan mencukupi kebutuhan. Karena dalam satu bulan kami membutuhkan pakan sekitar 30 ton,” ujarnya.
Menurutnya, hasil panen jagung lokal yang saat ini tersedia masih sangat terbatas dibanding kebutuhan peternakan ayam petelur yang terus meningkat. Karena itu, pihaknya berharap dapat memperoleh dukungan melalui program subsidi jagung yang saat ini sedang didorong pemerintah bagi peternak ayam petelur.
“Kami sudah mencoba menyampaikan kepada pemerintah daerah supaya peternak di Mahulu juga bisa mendapatkan program subsidi jagung itu,” katanya.
Ia menjelaskan, jika seluruh kebutuhan pakan hendak dipenuhi dari produksi jagung lokal, maka diperlukan lahan yang cukup luas. Dengan asumsi satu hektare menghasilkan sekitar empat ton jagung, dibutuhkan sedikitnya 10 hektare lahan tanam untuk memenuhi kebutuhan pakan selama satu siklus panen.
“Karena umur jagung sekitar tiga bulan, minimal harus ada 10 hektare supaya stok pakan tetap tersedia saat masa panen berikutnya,” jelasnya.
Nur mengungkapkan program penanaman jagung yang telah dirintis bersama pemerintah kampung, Dinas Pertanian Mahulu, dan Polres Mahulu akan terus dilanjutkan. Jika sebelumnya baru sekitar satu hektare lahan yang ditanami, tahun ini pihaknya menargetkan perluasan hingga lima sampai enam hektare.
Langkah tersebut merupakan bagian dari program swasembada pangan yang telah dirintis sejak beberapa tahun terakhir di Kampung Ujoh Bilang.
Menurutnya, target awal swasembada telur untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Ujoh Bilang sudah mulai tercapai seiring bertambahnya populasi ayam petelur yang kini mencapai sekitar 5.000 ekor.
“Kalau untuk kebutuhan telur masyarakat Ujoh Bilang, kami hitung sudah bisa swasembada. Setelah ini fokus berikutnya adalah pengembangan jagung dan padi,” ujarnya.
Nur menambahkan, usaha peternakan yang dikelola kelompok masyarakat tersebut juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan kampung. Dalam setahun, usaha tersebut diperkirakan mampu menyumbang pendapatan sekitar Rp40 juta bagi kampung.
Ia berharap program yang telah dirintis dapat terus dilanjutkan oleh pemerintahan kampung yang baru agar investasi dan anggaran yang telah dikeluarkan tidak terhenti di tengah jalan.
“Program lama ini sudah dirintis untuk mendukung swasembada pangan. Harapannya petinggi yang baru bisa melanjutkan sehingga manfaatnya terus dirasakan masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Erwin