Ketua Panitia Kurban Masjid Al-Muhajirin, Sulis Wiyanto mengatakan jumlah hewan kurban tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Total hewan kurban yang disembelih mencapai empat ekor sapi dan dua ekor kambing.
“Alhamdulillah tahun ini ada empat sapi dan dua kambing. Kalau tahun lalu masih dua sapi, sekarang meningkat karena kesadaran jamaah untuk berkurban juga semakin baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dari empat sapi tersebut, dua sapi berasal dari kelompok iuran jamaah yang masing-masing terdiri dari tujuh orang, sementara dua sapi lainnya merupakan kurban perorangan.
Selain itu, satu ekor kambing juga berasal dari kurban pribadi jamaah, sedangkan satu kambing lainnya merupakan hasil sumbangan sukarela jamaah untuk kebutuhan konsumsi selama persiapan pelaksanaan kurban.
Menurutnya, seluruh proses persiapan hingga pelaksanaan kurban dilakukan secara gotong royong oleh jamaah masjid. Kaum bapak terlibat dalam proses penyembelihan dan pemotongan daging, sementara ibu-ibu membantu menyiapkan konsumsi bagi panitia dan masyarakat.
“Semua kompak bergotong royong, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Ini bukan target, tapi kesadaran masing-masing jamaah yang merasa memiliki rezeki lebih,” katanya.
Panitia tahun ini juga menyebarkan sebanyak 239 kupon pembagian daging kurban kepada masyarakat. Distribusi dilakukan secara merata kepada jamaah dan warga muslim di sekitar Sebenaq, termasuk pekerja pendatang dari luar daerah yang berada di wilayah tersebut.
Mbah Sulis menjelaskan, panitia menggunakan sistem pendataan jamaah untuk memastikan pembagian daging kurban dapat berjalan adil dan tepat sasaran. Bahkan jamaah baru yang terdata tahun ini juga tetap dimasukkan dalam daftar penerima kupon.
“Kalau untuk jamaah Masjid Al-Muhajirin semuanya sudah kami data. Bahkan jamaah baru juga masuk. Yang penting muslim dan memang layak menerima, tetap kami bagikan agar kebersamaan tetap terjaga,” jelasnya.
Ia menambahkan, panitia juga menyiapkan cadangan pembagian apabila masih terdapat warga yang belum menerima kupon atau ada masyarakat kurang mampu yang terlewat saat pendataan.
Selain semangat gotong royong, pelaksanaan kurban tahun ini juga diwarnai bentuk toleransi antarumat beragama. Salah satu sapi kurban berasal dari partisipasi seorang petinggi kampung non-Muslim sebagai bentuk dukungan dan kebersamaan terhadap masyarakat muslim di Ujoh Bilang.
“Walaupun non-Muslim, beliau tetap berpartisipasi memberikan satu ekor sapi untuk saudara muslim. Itu bentuk toleransi yang sangat kami hargai,” tuturnya.
Editor: Erwin