Aktivitas penyeberangan di sisi Jembatan Aji Tulur Jejangkat beroperasi di tengah banjir yang merendam kawasan bantaran sungai. Namun operator kapal kini harus menghadapi medan yang jauh lebih sulit dibanding biasanya.
Jika dalam kondisi normal kapal hanya melintasi Sungai Mahakam secara langsung, kini para motoris terpaksa memutar jalur dengan menerobos kawasan semak, pepohonan, hingga genangan banjir di sekitar hutan kecil yang terendam. Arus sungai yang deras membuat perjalanan menjadi lebih panjang dan penuh risiko.
Rizal, salah seorang operator kapal penyeberangan, mengatakan kondisi banjir memaksa mereka membuka jalur baru agar kapal tetap bisa beroperasi melayani masyarakat.
“Sekarang susah karena arusnya deras. Kami harus masuk ke semak-semak dan bikin jalur dulu supaya kapal bisa lewat. Tapi mau bagaimana lagi, masyarakat masih perlu akses untuk menyeberang,” ujarnya kepada Korankaltim.com, Senin (25/5/2026).
Menurut Rizal, perubahan jalur tersebut berdampak langsung terhadap biaya operasional, terutama konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Jika sebelumnya kapal hanya membutuhkan sekitar 20 liter BBM dalam sekali perjalanan, kini kebutuhan bahan bakar meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 45 liter.
“Karena jalurnya lebih jauh dan arusnya berat, minyak juga jadi jauh lebih banyak dipakai,” katanya.
Meningkatnya biaya operasional membuat tarif penyeberangan ikut melonjak tajam. Tarif sepeda motor yang sebelumnya hanya Rp5 ribu kini naik menjadi Rp25 ribu, bahkan sempat mencapai Rp50 ribu saat arus sungai sedang sangat deras.
Sementara tarif mobil kecil yang biasanya sekitar Rp50 ribu kini naik menjadi Rp150 ribu. Untuk kendaraan besar dan truk ekspedisi, tarif penyeberangan berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp250 ribu sekali jalan.
“Kendaraan kecil sekarang Rp150 ribu, sedangkan kendaraan besar dan truk ekspedisi bisa mencapai Rp200 ribu hingga Rp250 ribu,” jelas Rizal.
Kondisi tersebut mulai dikeluhkan warga dan pengguna jasa penyeberangan karena dinilai sangat membebani biaya mobilitas sehari-hari. Salah satunya dirasakan Daniel, warga yang rutin menggunakan jasa penyeberangan untuk mengambil pasokan sayur dagangannya.
Ia mengaku biaya yang harus dikeluarkan saat ini sangat memberatkan, terlebih bagi masyarakat yang setiap hari harus bolak-balik menyeberang sungai.
“Kalau kami yang tiap hari lewat tentu terasa berat. Saya sendiri ambil sayur untuk dijual lagi. Kadang biaya penyeberangan malah hampir habis untuk keuntungan dagangan,” katanya.
Menurut Daniel, kondisi tersebut juga dirasakan para pekerja dan pengendara motor yang harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar dibanding hari biasa.
“Kalau motor sempat sampai Rp50 ribu sekali menyeberang. Kalau pulang-pergi sudah Rp100 ribu, belum biaya lain-lain,” ujarnya.
Meski tarif naik cukup tinggi, warga memahami kondisi sulit yang dihadapi operator kapal akibat banjir dan arus deras Sungai Mahakam. Namun mereka tetap berharap situasi segera membaik agar tarif penyeberangan bisa kembali normal.
“Harapannya semoga air cepat surut supaya tarif bisa kembali normal dan masyarakat tidak terlalu terbebani,” tutupnya.
Editor: Erwin