Kepala Dinas Kesehatan Mahulu dr. Petronela Tugan menjelaskan kalau kondisi tersebut dipengaruhi belum dimulainya proses pengadaan obat akibat adanya pergeseran anggaran serta kendala administrasi di internal Dinkes.
Satu diantara kendala yang sempat dihadapi yakni belum adanya penanggung jawab apoteker definitif di lingkungan Dinkes Mahulu.
“Memang sempat ada permasalahan penanggung jawab apoteker di Dinkes. Selama ini baru tenaga PPPK paruh waktu. Sudah ada SK sementara ini, dipergeseran baru selesai dan sekarang masih dalam proses pengadaan,” kata Petronela kepada Korankaltim.com Rabu (13/5/2026) hari ini.
Meningkatnya kasus DBD di wilayah Tiong Ohang juga membuat kebutuhan cairan infus dan logistik kesehatan meningkat tajam sehingga stok yang tersedia cepat berkurang.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Dinkes Mahulu melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi melalui mekanisme buffer stock atau cadangan logistik kesehatan.
Kalau persediaan di provinsi juga terbatas, Dinkes terpaksa meminjam kebutuhan obat dari rumah sakit daerah maupun kabupaten tetangga seperti Kutai Barat.
“Kami sempat pinjam abate dari Kutai Barat, nanti setelah pengadaan selesai akan diganti,” papar Petronela.
Sampai saat ini laporan peningkatan kasus DBD paling tinggi masih berasal dari Kecamatan Long Apari. Berdasarkan data Dinkes Mahulu periode Januari hingga 11 Mei 2026, Kecamatan Long Apari tercatat sebanyak 101 kasus DBD, disusul Long Pahangai 2 kasus dan Long Bagun 3 kasus.
Sementara Kecamatan Laham, wilayah kerja Puskesmas Mambes dan Long Hubung tercatat nihil kasus.
Pihaknya bersama puskesmas terus melakukan penyuluhan kesehatan dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di kawasan permukiman warga.
Camat Long Apari Petrus Ngo melaporkan, berdasarkan data periode 21 Februari hingga 10 Mei 2026, jumlah kasus DBD di wilayah tersebut mencapai 100 kasus yang tersebar di sejumlah kampung.
Kasus tertinggi tercatat berada di Kampung Tiong Bu’u sebanyak 38 kasus, disusul Tiong Ohang 19 kasus, Noha Boan 15 kasus, Long Kerioq 11 kasus, Long Penaneh 2 sebanyak 10 kasus, Long Penaneh 1 sebanyak 4 kasus dan Long Penaneh 3 sebanyak 3 kasus.
Tingginya kasus DBD dipengaruhi terganggunya pasokan air bersih akibat kerusakan jaringan pipa SPAM setelah diterjang banjir dan longsor beberapa waktu lalu.
Akibat kondisi tersebut, masyarakat terpaksa menampung air hujan maupun menggunakan air Sungai Mahakam untuk kebutuhan sehari-hari. Penampungan air yang tidak memenuhi standar kesehatan dinilai menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab DBD.
“Itu akibat longsor kemudian pipa SPAM yang menyeberang Mahakam dihantam banjir sehingga debit air tidak maksimal dan beberapa kampung kesulitan air bersih,” jelas Petrus.
Editor: Aspian Nur