Sekretaris PWNU Kalimantan Timur Abu Bakar Madani mengatakan, Konferensi Cabang (Konfercab) II PCNU Mahulu yang digelar di Aula Pondok Pesantren Wali Songo Mahulu beberapa waktu lalu bukan hanya agenda pergantian kepengurusan tetapi forum strategis untuk merumuskan arah organisasi lima tahun ke depan agar lebih aktif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami berharap semua program kerja yang dirumuskan nanti bisa bersifat kolaboratif, baik dengan pemerintah daerah maupun mitra pihak ketiga, sehingga PCNU Mahulu lima tahun ke depan dapat memberikan manfaat bagi warga secara umum,” kata Abu Bakar kepada Korankaltim.com Senin (11/5/2026) hari ini.
Dalam waktu lima tahun terakhir koordinasi antara PWNU Kaltim dan PCNU Mahulu berjalan cukup baik, terutama dalam pelaksanaan kaderisasi dan pengembangan program organisasi. PWNU berharap sinergi tersebut dapat semakin diperkuat, terutama dalam mendukung program pembangunan daerah.
Selain penguatan organisasi, PWNU juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan lembaga pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren di Mahakam Ulu.
Tantangan terbesar yang masih dihadapi pesantren di Mahulu adalah keterbatasan tenaga pengajar. Selama ini sebagian besar pengajar didatangkan dari luar daerah seperti Pulau Jawa dan Kalimantan Selatan.
Namun kondisi geografis Mahulu yang cukup berat membuat tidak semua tenaga pengajar mampu bertahan lama. “Memang kendala utamanya adalah adaptasi. Kalau secara mental tidak kuat, biasanya hanya bertahan sebentar,” paparnya.
PWNU optimistis kebutuhan tenaga pengajar tetap dapat dipenuhi melalui jaringan alumni pondok pesantren dan koordinasi antar lembaga pendidikan NU. Lembaga lain seperti Lembaga Ma’arif NU dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) terus berupaya menjembatani kebutuhan pondok pesantren di daerah dengan para alumni pesantren di berbagai wilayah.
PCNU Mahulu juga diharapkan dapat membangun kemandirian organisasi melalui pembentukan badan usaha yang mampu menopang operasional organisasi maupun kebutuhan pondok pesantren.
“Kami berharap pengurus cabang memiliki badan usaha atau usaha mandiri yang bisa membantu pembiayaan operasional, termasuk mendukung kesejahteraan pengajar pondok pesantren,” tutup Abu Bakar.
Editor: Aspian Nur