Ada 400 Penderita Katarak Terdeteksi di Kubar
3 menit baca0 kali dibaca

Penulis : Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Gangguan penglihatan akibat katarak masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Kutai Barat (Kubar).
3 menit baca0 kali dibaca

Penulis : Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Gangguan penglihatan akibat katarak masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Kutai Barat (Kubar).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kubar mencatat sedikitnya 400 penderita katarak pada 2026, namun angka tersebut diperkirakan belum mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan karena masih banyak masyarakat yang belum menjalani pemeriksaan mata secara berkala.
Kepala Dinas Kesehatan Kubar Dr Rita Sinaga menjelaskan, data yang tersedia saat ini sebagian besar berasal dari laporan fasilitas kesehatan tingkat pertama, terutama puskesmas. Karena itu jumlah penderita berpotensi lebih besar, terutama di wilayah pedalaman maupun kampung yang akses kesehatannya masih terbatas.
“Data yang ada saat ini berasal dari Puskesmas. Kami memperkirakan masih ada masyarakat yang belum terdata karena skrining kesehatan mata belum dilakukan secara menyeluruh dan berkala,” kata Rita kepada Korankaltim.com, Sabtu (25/4/2026).
Katarak merupakan salah diantara penyebab utama penurunan daya lihat pada kelompok usia lanjut. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kebutaan dan berdampak langsung terhadap kualitas hidup penderita.
Penderita tidak hanya kehilangan kemampuan melihat secara normal, tetapi juga berisiko kehilangan kemandirian dalam beraktivitas sehari-hari. Tidak sedikit warga yang akhirnya bergantung pada keluarga, bahkan kehilangan kesempatan bekerja.
“Karena itu kami terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan pemeriksaan mata di puskesmas. Semakin cepat diketahui, maka semakin cepat pula bisa ditangani,” ujar Rita.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Cabang Kaltim-Kaltara dr. Eka Falentina Wati menilai tantangan penanganan katarak di Kubar tidak hanya berkaitan dengan jumlah kasus, tetapi juga kondisi geografis daerah yang luas serta sebaran penduduk yang berjauhan.
Pasien yang tercatat saat ini umumnya merupakan penderita dengan gangguan penglihatan berat hingga kebutaan. Sementara warga dengan gangguan penglihatan ringan maupun sedang sering kali belum masuk pendataan karena belum datang memeriksakan diri.
“Yang banyak tercatat biasanya pasien dengan kondisi berat. Padahal masyarakat dengan gangguan penglihatan ringan maupun sedang juga cukup banyak, hanya saja belum semuanya datang untuk diperiksa,” kata Eka.
Tren masyarakat saat ini mulai berubah. Jika dulu banyak pasien datang ketika kondisi sudah parah, kini sebagian warga mulai sadar pentingnya penanganan lebih dini.
“Sekarang orang tidak selalu menunggu sampai buta total untuk operasi. Saat penglihatan mulai terganggu pun sudah ingin diperiksa. Ini perkembangan yang baik,” ucapnya.
Untuk memperkuat deteksi dini, PERDAMI bersama Dinas Kesehatan Kubar menggelar pelatihan bagi tenaga kesehatan puskesmas. Pelatihan tersebut difokuskan pada peningkatan kemampuan skrining, pemeriksaan refraksi mata, hingga penanganan awal pascaoperasi.
Kualitas skrining di tingkat puskesmas sangat penting karena menjadi pintu pertama pelayanan masyarakat. Jika pemeriksaan awal tepat, maka pasien yang dirujuk ke rumah sakit juga benar-benar sesuai kebutuhan medis. “Kami ingin teman-teman di puskesmas makin kuat sebagai garda terdepan. Kalau skrining tepat, rujukan juga tepat, sehingga pelayanan menjadi lebih cepat dan efisien,” ujar Eka lagi.
Selain katarak, pihaknya juga menyoroti gangguan refraksi pada anak usia sekolah yang masih sering luput dari perhatian. Banyak anak sebenarnya membutuhkan kacamata, namun tidak terdeteksi sehingga berisiko mengalami gangguan penglihatan permanen atau lazy eye.
Menurutnya, kerja sama antara puskesmas, sekolah, dan orang tua menjadi penting agar gangguan penglihatan pada anak dapat ditemukan sejak dini.
Dinas Kesehatan Kubar akan terus memperkuat pemeriksaan mata berkala di puskesmas serta mendorong edukasi kepada masyarakat. Langkah itu dinilai penting agar kasus katarak dapat ditemukan lebih cepat sebelum kondisi pasien semakin berat.
Editor: Aspian Nur

Copyright © 2007 - 2026 Korankaltim.com | All Rights Reserved.
5 kali dibaca
111 km Tenggara SELAYAR-SULSEL
01 Okt 2026, 21:20:00 WIB • Kedalaman 10 km
Tidak berpotensi tsunami
Sumber: BMKG