Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kubar, Bambang Pramudito, menyampaikan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Ia menjelaskan, kondisi musim kemarau di Kubar berbeda dengan sejumlah wilayah lain di Indonesia seperti Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Di wilayah ini, periode kemarau masih kerap disertai hujan sehingga potensi kekeringan tidak separah daerah lainnya.
“Memang sejak April ini kita mulai masuk musim kemarau, tetapi karakteristiknya di Kutai Barat masih terjadi hujan. Jadi bisa dikatakan kemarau basah,” ujarnya kepada Korankaltim.com, Minggu (12/4/2026).
Meski demikian, BPBD tetap melakukan langkah antisipasi sejak dini untuk menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi pada puncak musim kemarau di sejumlah wilayah Kubar.
Bambang Pramudito, mengaku pihaknya telah menyiapkan berbagai peralatan penanganan karhutla. Selain itu, BPBD juga memperkuat peran masyarakat melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA).
“Total ada 55 kelompok MPA yang sudah kita bentuk, dan 47 di antaranya telah kita lengkapi dengan sarana dan prasarana untuk membantu penanganan karhutla di lapangan,” jelasnya.
BPBD juga telah mendistribusikan peralatan seperti unit slip on, pompa apung, hingga pompa jinjing di 11 kecamatan. Seluruh peralatan tersebut dipastikan dalam kondisi siap digunakan.
Sejumlah kecamatan yang kerap menjadi titik rawan karhutla di antaranya Bongan, Jempang, Penyinggahan, Muara Pahu, Muara Lawa, Mook Manaar Bulant, Damai, Barong Tongkok, dan Tering.
BPBD Kubar telah berkoordinasi dengan BMKG serta BPBD Provinsi Kaltim terkait potensi dampak fenomena El Nino ekstrim yang kerap disebut “El Nino Godzilla”. Hasilnya, Kubar dipastikan tidak terdampak signifikan oleh fenomena tersebut.
“Informasi dari BMKG, Kubar tetap mengalami kemarau, tetapi tidak dalam kondisi ekstrem atau kering seperti daerah lain,” tambah Bambang.
Meski kondisi relatif terkendali, BPBD tetap mengimbau masyarakat agar berhati-hati, khususnya dalam aktivitas pembukaan lahan. Masyarakat diminta melakukan pembakaran secara terkendali dengan membuat sekat minimal tiga meter agar api tidak merambat.
Selain itu, pembukaan lahan juga disarankan dilakukan secara bertahap dan tidak melebihi tiga hektare dalam satu waktu. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di wilayah dengan vegetasi kering seperti ilalang dan pakis yang mudah terbakar.
“Kami juga mengimbau masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan informasi di media sosial terkait kemarau panjang, termasuk yang menyebut ‘El Nino Godzilla’. Kondisi di Kutai Barat masih relatif aman dan terkendali,” pungkasnya.
Editor: Erwin