Polres Mahulu mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan pembukaan ladang yang rata-rata mencapai sekitar 10 hektare di tiap kampung. Dari luasan tersebut, sebagian lahan diimbau untuk ditanami jagung.
Kapolres Mahakam Ulu, AKBP Eko Alamsyah, mengatakan langkah ini menjadi strategi efektif untuk meningkatkan produksi pangan di tengah berbagai keterbatasan.
“Dari 10 hektare lahan pembukaan ladang itu, kami mengimbau agar sekitar dua hektare bisa dimanfaatkan untuk penanaman jagung,” ujarnya, Jumat (03/04/2026).
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program tersebut. Selain mendukung target ketahanan pangan, pemanfaatan lahan ini juga dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi bagi warga.
Polres Mahulu juga akan terus melakukan sosialisasi, koordinasi, serta pendampingan kepada masyarakat agar program penanaman jagung dapat berjalan optimal.
“Kami tidak hanya mendorong, tetapi juga akan melakukan pendampingan agar masyarakat bisa merasakan manfaat langsung dari penanaman jagung ini,” katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Mahulu juga menegaskan komitmennya dalam memperkuat kemandirian pangan, di tengah masih tingginya ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar daerah.
Bupati Mahakam Ulu, Angela Idang Belawan, sebelumnya menyampaikan bahwa skema pemanfaatan lahan seluas 10 hektare per desa tetap menjadi prioritas dalam strategi ketahanan pangan.
Menurutnya, tantangan utama terletak pada perubahan pola tanam masyarakat yang selama ini terbiasa dengan sistem berladang, sementara pengembangan sawah menetap membutuhkan adaptasi.
“Kita tahu budaya kita berladang. Tapi kalau sawah berhasil, apalagi bisa panen dua kali setahun, tentu masyarakat juga akan semakin antusias,” ujarnya.
Angela menilai keberhasilan percontohan akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk beralih atau mengembangkan pola tanam yang lebih produktif.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong diversifikasi pemanfaatan lahan, salah satunya melalui penanaman jagung untuk mendukung sektor peternakan yang mulai berkembang di Mahulu.
“Dari 10 hektare itu kalau bisa dibagi juga untuk jagung karena sekarang peternakan mulai berkembang. Pakan ternak dari jagung ini penting,” ucapnya.
Produksi jagung lokal diharapkan mampu menekan biaya pakan ternak yang selama ini masih bergantung dari luar daerah, sekaligus memperkuat keterkaitan antara sektor pertanian dan peternakan.
Dengan sinergi antara aparat dan pemerintah daerah, Mahulu optimistis program pemanfaatan lahan ini dapat berjalan lebih optimal dan menjadi fondasi kemandirian pangan berkelanjutan di wilayah perbatasan tersebut.
Editor: Erwin