Ruang terbuka tersebut diharapkan tidak hanya menjadi elemen fisik perkotaan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan sosial masyarakat dari berbagai kalangan usia.
Bupati Mahulu, Angela Idang Belawan, menegaskan bahwa alun-alun harus dirancang sebagai ruang bersama yang ramah bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga lansia.
Menurutnya, keberadaan ruang publik yang inklusif mencerminkan wajah daerah sekaligus menjadi simbol kebersamaan warga.
“Tempat ini harus inklusif. Alun-alun harus ramah bagi anak-anak untuk bermain, aman bagi lansia untuk bersantai, dan nyaman menjadi wajah Mahulu yang kita banggakan bersama,” ujar Angela dikutip dari akun media sosial Instagram resminya, @angela_idang, Minggu (1/2/2026).
Ia menilai alun-alun bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang sosial yang berperan dalam memperkuat interaksi antarwarga.
Keberadaan ruang publik yang representatif dinilai mampu menjadi wadah tumbuhnya aktivitas masyarakat, termasuk pengembangan seni budaya dan pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Bagi saya, alun-alun bukan sekadar bangunan fisik. Lebih dari itu, ini adalah ruang tamu kita, ruang keluarga tempat cerita-cerita warga Mahakam Ulu tumbuh,” ucapnya.
Dalam proses perencanaan, pemerintah daerah turut melibatkan berbagai pihak, termasuk tenaga ahli dan unsur yang memiliki pengalaman dalam pembangunan daerah.
Kolaborasi ini dinilai penting guna memastikan setiap tahapan pembangunan berjalan sesuai arah kebijakan yang telah ditetapkan.
Pemerintah daerah berharap keberadaan alun-alun nantinya mampu menjadi pusat aktivitas masyarakat yang hidup dan berkelanjutan.
Ruang publik tersebut diharapkan dapat mendorong geliat UMKM, menjadi panggung seni budaya, serta menghadirkan ruang interaksi yang hangat bagi masyarakat Mahakam Ulu.
Editor: Erwin