Kondisi ini mendorong DKPP menerapkan pola jemput bola dengan turun langsung ke lapangan untuk mendampingi masyarakat.
Kepala Bidang Perikanan, Peternakan dan Perkebunan DKPP Mahulu, Jimmy Herman, mengatakan keterbatasan penyuluh membuat dinas harus lebih aktif mendatangi kelompok peternak dan pembudidaya ikan.
“Kami memang masih kekurangan tenaga penyuluh lapangan. Karena itu, mau tidak mau kami menerapkan pola jemput bola agar pelayanan ke masyarakat tetap berjalan,” ujar Jimmy, Kamis, (29/1/2026).
Menurutnya, kehadiran langsung petugas teknis di lapangan penting untuk mendeteksi potensi gangguan sejak dini, terutama terkait penyakit ikan dan ternak yang dapat berdampak pada penurunan produksi.
“Deteksi dini ini penting supaya tidak terjadi kerugian yang lebih besar. Kalau kita turun langsung, masalah bisa cepat diketahui dan ditangani,” jelasnya.
Selain sebagai upaya pengendalian penyakit, pendekatan jemput bola juga dinilai efektif dalam memperkuat komunikasi antara pemerintah dan pelaku usaha.
Masyarakat dapat menyampaikan kendala teknis secara langsung tanpa harus menunggu kehadiran penyuluh tetap.
“Pendekatan ini juga membantu kami mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan dan kendala masyarakat di lapangan,” katanya.
Pendampingan yang dilakukan tidak hanya terbatas pada aspek kesehatan ternak dan ikan, tetapi juga mencakup edukasi manajemen usaha, pemberian pakan, hingga peningkatan kualitas produksi.
DKPP Mahulu menegaskan akan terus mengoptimalkan pelayanan meski dengan keterbatasan sumber daya manusia. Pola jemput bola diharapkan dapat menjaga produktivitas sektor peternakan dan perikanan sekaligus mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat di Mahakam Ulu.
Editor: Erwin