Kondisi ini dipicu oleh surutnya debit Sungai Mahakam yang selama ini menjadi jalur utama pengangkutan BBM ke daerah perbatasan.
Camat Long Pahangai Thomas Ding menjelaskan, hingga saat ini stok BBM di wilayahnya masih relatif aman selama dua hingga tiga minggu ke depan, meski sudah mulai terjadi kenaikan harga di tingkat pengecer.
Meski sudah mulai terjadi kenaikan harga di tingkat pengecer, kenaikan tersebut terutama dirasakan pada BBM yang dijual eceran di kampung-kampung.
“Harga di pengecer sudah naik, dari sebelumnya sekitar Rp13 Ribu per liter, kini berada di kisaran Rp15 Ribu hingga Rp20 Ribu. Tapi untuk BBM di APMS masih bertahan di harga awal, Rp10 Ribu,” kata Thomas saat dihubungi Korankaltim.com Selasa, (27/1/2026).
Distribusi BBM ke Long Pahangai sejauh ini masih berjalan dengan menyesuaikan kondisi sungai, namun kalau musim kemarau terus berlanjut dan debit air semakin menurun, pengangkutan dari wilayah hilir akan semakin sulit dilakukan.
“Pengangkutan BBM memang bergantung pada kondisi sungai. Kalau air makin surut, tentu distribusinya jadi lebih berat,” papar Thomas.
Thomas mengimbau pemerintah kampung agar melakukan pengawasan terhadap harga jual BBM di tingkat pengecer dan meminta agar kebijakan kampung dapat ditegakkan jika ditemukan harga yang terlalu tinggi dan memberatkan masyarakat. “Kami sudah minta agar pengencer yang menjual terlalu mahal ditegur sesuai aturan kampung. Apalagi mereka juga menerima subsidi ongkos angkut,” ucap Thomas lagi.
Wakil Bupati Mahakam Ulu Suhuk dikonfirmasi terpisah menyebut persoalan distribusi BBM yang terjadi saat ini bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan di daerah, melainkan dipengaruhi oleh faktor alam dan teknis distrRibusi di jalur sungai. “Kelangkaan yang dikhawatirkan masyarakat ini berkaitan dengan kondisi Sungai Mahakam yang surut. Akses transportasi ke Mahulu memang sangat bergantung pada jalur sungai,” ujar Suhuk.
Proses distribusi BBM selama ini menggunakan kapal, sehingga ketika kondisi perairan tidak memungkinkan, pengiriman otomatis terhambat. Selain faktor alam, terdapat pula penyesuaian terkait angkutan umum di perairan Sungai Mahakam. “Informasinya ada proses administrasi dan penyesuaian izin angkutan yang harus dilalui oleh pihak pengangkut, sehingga distRibusi BBM sempat mengalami keterlambatan,” jelasnya.
Meski demikian Suhuk menegaskan persoalan perizinan tersebut bukan terjadi di Mahakam Ulu. “Permasalahan itu bukan di tempat kita. Informasinya dari Dinas Perhubungan Samarinda yang meminta penyesuaian kembali terkait izin angkutan mereka,” pungkasnya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan Korankaltim.com, kenaikan harga BBM justru juga terjadi di wilayah hilir. Di Ibu Kota Kabupaten Mahakam Ulu, Kampung Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, masyarakat mulai meresahkan kelangkaan BBM dan melonjaknya harga di tingkat pengecer hingga mencapai Rp30 Ribu per liter. Di Kecamatan Laham, harga BBM eceran dilaporkan berada di kisaran Rp25 Ribu per liter.
Kondisi ini menunjukkan dampak surutnya Sungai Mahakam tidak hanya dirasakan wilayah pedalaman, tetapi juga mulai mempengaruhi distribusi dan harga BBM di wilayah hilir Mahakam Ulu.
Editor: Aspian Nur