Dalam kunjungan tersebut, Menhan meninjau langsung kondisi satuan serta menerima paparan terkait kesiapan prajurit dan dukungan operasional. Ia menegaskan bahwa satuan tempur di daerah memiliki peran strategis, sehingga harus selalu berada dalam kondisi siap menghadapi berbagai tantangan, baik militer maupun nonmiliter.
“Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian prajurit dalam menjaga kedaulatan negara dan keutuhan wilayah,” ujar Sjafrie.
Menurutnya, dinamika lingkungan strategis yang terus berkembang menuntut setiap prajurit untuk terus meningkatkan kemampuan, menjaga fisik dan mental, serta menguasai teknologi dan taktik sesuai perkembangan zaman. Profesionalisme prajurit, kata dia, menjadi kunci utama kekuatan pertahanan nasional.
Menhan juga mengingatkan pentingnya disiplin dan soliditas satuan. Ia menekankan agar prajurit menjunjung tinggi jati diri TNI, setia kepada Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta menghindari segala bentuk pelanggaran yang dapat merusak kehormatan pribadi maupun institusi.
“TNI lahir dari rakyat, berjuang bersama rakyat, dan mengabdi untuk rakyat. Karena itu, jaga kepercayaan rakyat dengan sikap dan tindakan yang mencerminkan prajurit sejati,” tegasnya.
Kunjungan kerja tersebut dimanfaatkan Menhan untuk melihat langsung kesiapan satuan di lapangan serta memperoleh gambaran faktual kondisi prajurit dan dukungan perlengkapan yang tersedia. Peninjauan ini menjadi bagian dari evaluasi kesiapan pertahanan di daerah, khususnya di wilayah Kutai Barat. Kunjungan kerja tersebut turut dihadiri unsur pemerintah daerah dan Forkopimda Kutai Barat.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan di jajaran Yonif TP 827/MCY selesai, rombongan Menteri Pertahanan meninggalkan lokasi dan melanjutkan perjalanan menuju Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan.
Editor: Aspian Nur