Bupati Mahulu Angela Idang Belawan melalui Wakil Bupati Suhuk mengapresiasi terlaksananya forum koordinasi tersebut sebagai bentuk kepedulian kolektif dalam menjaga kelestarian badak Kalimantan yang kini berada di ambang kepunahan.
“Forum ini merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab bersama dalam menjaga salah satu warisan paling berharga bangsa ini yakni kelestarian badak di Kalimantan,” ujar Suhuk.
Tragedi kematian Najaq diingatkan Suhuk pada momen itu, yang mana badak betina itu ditemukan pada 2015 dan dinyatakan mati pada 2016 akibat luka jerat. Peristiwa tersebut disebut menjadi pengingat kuat upaya konservasi tidak boleh berhenti dan membutuhkan kerja sama semua pihak.
Di Kalimantan Timur saat ini hanya tercatat memiliki dua badak yang diketahui keberadaannya, yakni Pahu yang berada di Suaka Badak Kelian (SBK) dan Pari yang masih hidup di habitat alaminya. Kondisi Pari disebut semakin terancam oleh deforestasi dan aktivitas ilegal yang mengganggu habitatnya.
“Keselamatan Pari sangat terancam. Namun justru karena hewan itu hidup sendirian tanpa kelompok, keberadaannya menjadi modalitas berharga bagi keberlangsungan populasi badak Kalimantan,” papar Suhuk.
Pemkab Mahulu memberikan dukungan penuh terhadap seluruh program konservasi juga penghargaan kepada masyarakat adat yang menjaga hutan serta kesiapan menjalin kerja sama erat dengan BKSDA, Kementerian LHK, lembaga konservasi dan mitra lainnya.
Selain itu, pemerintah berharap forum ini menghasilkan kesepakatan tertulis mengenai strategi dan pembagian peran dalam penyelamatan badak. “Melindungi badak Kalimantan adalah keharusan moral dan ekologis agar spesies ini tidak benar-benar menghilang dari bumi Kalimantan,” tegas Suhuk.
Editor: Aspian Nur