Kegiatan yang diinisiasi oleh Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat tersebut diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari petani, pelaku usaha, masyarakat adat, akademisi hingga mahasiswa. Agenda ini menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat sistem pangan yang inklusif, berkeadilan, dan berakar pada budaya lokal.
Syahbandi, yang berasal dari Komunitas Sempekaat Lestari Kecamatan Bongan, dan Maria yang mewakili pemuda masyarakat adat Linggang Melapeh, menjadi dua wakil dari Pulau Kalimantan selain satu peserta lainnya dari Pontianak, Kalimantan Barat.
Dalam kegiatan tersebut, Syahbandi membawa enam produk olahan pangan lokal serta dua belas jenis padi khas Kubar yang langsung menarik perhatian peserta dari berbagai daerah.
“Kami membawa beberapa produk dan memperkenalkannya ke peserta lain dari seluruh Indonesia. Bahkan sempat membagikannya untuk dicicipi,” ujar Syahbandi kepada KoranKaltim.com, Rabu (15/10/2025).
Ia juga berkesempatan berbagi pengalaman mengenai proses produksi pangan lokal di daerahnya, termasuk tantangan dan kendala yang dihadapi dalam pengembangannya.
“Hari ini sangat berkesan, karena bisa menceritakan langsung tentang produksi pangan lokal di hadapan peserta dari berbagai provinsi,” tambahnya.
Melalui pendekatan partisipatif, para peserta workshop berdiskusi dan menganalisis sistem pangan di masing-masing daerah. Dari hasil diskusi itu disusun Theory of Change (ToC) sebagai peta jalan perubahan menuju sistem pangan lokal yang berkelanjutan.
Pihak Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat menjelaskan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta tentang sistem pangan berbasis budaya dan sumber daya lokal. Diharapkan, forum ini dapat menghasilkan gambaran situasi pangan daerah serta rancangan awal ToC sebagai arah penguatan pangan di masa depan.
Kehadiran perwakilan Kubar dalam forum nasional ini menegaskan bahwa daerah memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan tradisional ke tingkat nasional.
Editor: Aspian Nur