Ratusan warga memadati area pameran untuk menyaksikan langsung beragam koleksi pusaka bersejarah sejak hari pertama digelarnya kegiatan ini.
Beberapa benda pusaka yang dipamerkan antara lain koleksi benda pusaka Indonesia milik Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, koleksi dari Padepokan Brojobuwono Karanganyar, Jawa Tengah serta berbagai senjata tradisional nusantara seperti keris, mandau, kujang dan tombak.
Benda pusaka tersebut tidak hanya dinilai sebagai senjata, tetapi juga simbol warisan budaya yang sarat nilai sejarah dan spiritual.
Warga yang datang silih berganti mengamati detail ukiran keris dan ragam senjata tradisional lain. Mereka tak ingin melewatkan momen itu dengan berswafoto di dekat koleksi langka, ada juga anak-anak sekolah yang datang berkelompok mendapatkan penjelasan tentang sejarah pusaka dari anggota paguyuban.
Selain pameran, acara ini juga dirangkai dengan jamesan pusaka atau ritual perawatan pusaka, sarasehan budaya, kirab budaya, pertunjukan jaranan, kesenian bantengan serta pagelaran wayang kulit yang menghadirkan cerita-cerita bernilai filosofi luhur.
Ketua Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar, Waluyo Dwi Atmojo Setiobroto kepada Korankaltim.com Kamis (3/7/2025) hari ini menjelaskan kalau pameran ini digelar berangkat dari semangat untuk menjaga nilai budaya dan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian pusaka.
“Kami memilih pusaka karena memang akar berdirinya Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar adalah sebagai wadah pecinta dan pemerhati pusaka di Kutai Barat. Itulah mengapa kami memiliki semangat untuk melestarikan dan memberikan edukasi agar budaya kita tetap lestari sampai ke generasi penerus,” ujar Waluyo.
Kampung Sumber Sari sendiri berdiri tahun 1964, ketika program transmigrasi pemerintah membuka lahan pertanian baru di wilayah Sendawar. Mayoritas warga kala itu berasal dari Pulau Jawa, kemudian berbaur dengan masyarakat Dayak lokal dalam semangat gotong royong. Nama Sumber Sari dipilih sebagai simbol harapan akan sumber kehidupan yang subur dan sejahtera di tanah baru.
Editor: Aspian Nur