Acara ini dihadiri Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim Sunarto yang menjelaskan program KB dan kesehatan reproduksi berperan penting dalam pemenuhan hak reproduksi bagi pasangan usia subur (PUS) agar dapat menjalani kehidupan yang aman dan sehat.
"Melalui program pencegahan kehamilan 4 Terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak), diharapkan angka kematian ibu dan bayi dapat ditekan serta upaya pencegahan stunting dapat berjalan efektif," tegas Sunarto.
Data menunjukkan angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi, yaitu 189 per 100 ribu kelahiran hidup, sedangkan target Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 adalah dibawah 70 per 100.000 KH.
"Berdasarkan Pendataan Keluarga 2023, tingkat kesertaan KB modern secara nasional naik menjadi 60,4 persen namun tingkat partisipasi di Kalimantan Timur masih di bawah angka nasional (54,6 persen), sedangkan di Mahulu hanya 27,6 persen," ungkap Sunarto.
Tingginya kebutuhan KB yang tidak terpenuhi (unmet need) di Mahulu yang mencapai 42,5 persen menunjukkan perlunya promosi yang berkelanjutan.
BKKBN bersama mitra kerja juga menghadirkan berbagai jenis alat dan obat kontrasepsi modern yang dapat diakses gratis difasilitas kesehatan. Tahun 2024 ini Mahulu menerima Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) sebesar Rp2,35 Miliar untuk mendukung kegiatan tersebut.
"Kami berharap kegiatan ini dapat memperluas jangkauan pelayanan kesehatan terutama KB bagi Pasangan Usia Subur di wilayah-wilayah khusus agar mereka dapat memenuhi hak reproduksinya secara optimal," harap Sunarto.
Editor: Aspian Nur