Sebelum peletakan batu pertama diawali misa syukur oleh Uskup Keuskupan Agung Samarinda Mgr Yustinus Harjosusanto juga pastor paroki dari Kutai Barat dan Paroki Ujoh Bilang.
Kepada media, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mahulu Didik Subagya menjelaskan, proses pembangunan gedung gereja ini seharusnya dilakukan 17 Mei lalu namun terkendala proses administrasi sehingga baru dilaksanakan bulan ini.
Meski terlambat dua bulan, PUPR Mahulu tetap optimistis menyelesaikan proyek ini selama 230 hari ke depan, yaitu berakhir di 31 Desember 2024 meski tantangannya adalah cuaca.
"Prediksi kami bulan Agustus mendatang adalah bulan kering jadi kami optimistis, cuma kalau ada kendala cuaca ya di luar kami. Tapi kami tetap usahakan," kata Didik.
Kalau nantinya kontraktor proyek tidak mampu menyelesaikan pembangunan pada akhir tahun PUPR Mahulu akan memutuskan kontrak sebanyak pekerjaan yang sudah dikerjakan. "Artinya aman untuk Pemkab Mahulu aman juga untuk rekan mitra. Misalnya target kami 90 persen ya sudah kami bayar 90 persen," papar Didik.
Waktu efeisien pengerjaan pembangunan gedung gereja ini sudah mulai berjalan bulan ini karena beberapa material sudah ada dipesan dan sudah siap digunakan sementara material utama seperti baja dan kaca patrit masih dalam pemesanan dan akan dilakukan pengiriman ke Mahulu dari Kota Jepara, Jawa Timur menggunakan truk kontainer.
"Mengingat waktu yang agak singkat dan habisnya di 31 Desember, kami mengharapkan doa, dukungan semua pihak artinya dengan waktu yang demikian ketat kita dapat bekerja," ucap Didik.
Pada peresmian ini, Bupati Bonifasius Belawan Geh didampingi sang istri Yovita Bulan Bonifasius, Wakil Bupati Mahulu Yohanes Avun juga Sekretaris Daerah Stephanus Madang beserta Asisten III Kristina Tening. Hadir pula beberapa kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), unsur Forum Komunikasi Pimpinan (Forkopim) Mahulu beserta pemerintah Kecamatan Long Bagun.
Bonifasius sendiri mengatakan nama Santo Bonifasius yang diberi pada kelengkapan nama gereja tersebut karena kebetulan dari saran oleh Uskup Agung Samarinda. "Jadi bukan karena mentang-mentang nama bupatinya Bonifasius jadi nama gereja nya juga sama. Ini kebetulan, gereja nya sama dengan nama bupatinya dan ini sah-sah saja," ujar Boni.
Nama Santo Bonifasius merupakan martir dalam Gereja Katolik yang aslinya berasal dari Inggris dan menjadi martir di Jerman. Kemudian Santo Bonifasius juga dahulunya sempat menjad uskup di Bavaria sehingga di Jerman, Santo Bonifasius menjadi pelindung bagi umat Katolik di Jerman.
"Tapi pada saat membagikan sakramen di gereja di Jerman, beliau dibunuh. Sehingga nama itulah yang kita pakai di sini untuk jadi pelindung gereja kita di sini," jelas Boni.
Pembangunan Gereja Paroki Kampung Ujoh Bilang menelan anggaran sebesar Rp63,78 Miliar, menggunakan anggaran hibah tanah murni dari Bupati Mahulu dengan luas lahan sepanjang 200 meter lebar 60 meter, sementara untuk luas bangunan yang nanti akan digunakan sebanyak 60,79x 39 meter yang terdiri dari dua lantai, lantai 1 seluas 2.100 meter persegi dan lantai 2 375 meter persegi.
Editor: Aspian Nur